Pernikahan


            Pernikahan adalah sesuatu yang paling ditunggu-tunggu dan didambakan oleh kebanyakan orang setelah apa yang ingin diraih berada dalam genggaman. Lulus kuliah, sukses dalam karir, mapan dengan memiliki rumah dan kendaraan pribadi dan sebagainya, kemudian apalagi yang hendak ingin diraih kalau bukan memiliki sebuah keluarga yang bahagia seperi harapan semua orang. Itu semua diraihnya dengan menikah.

            Menjalani sebuah rumah tangga tidaklah mudah, semudah mengucapkan  “Sakinah, mawaddah warahmah.” Tidak semuda itu, Pernikahan adalah awal dari kehidupan baru, keadaan baru, kondisi baru, penyesuaian baru dan tujuan baru, yang kesemuanya mengharapkan kebaikan dan kelancaran dalam meraihnya. Tapi kita harus selalu ingat bahwa, kehidupan adalah tempatnya belajar, berkorban, bertukar perasaan dan posisi bak roda berputar. Yang harus selalu disiapkan adalah benteng kekuatan hati yang beramunisikan kesabaran, keikhlasan, ketaatan, kesetiaan dan rasa cinta.

            Seperti roda berputar, sama halnya bola juga menggelinding. Hanya saja ketika bola menggelinding, apakah sudah terarah atau sudah bertujuan ? apa hanya menggelinding bebas tanpa arah ?. Sama halnya menjalani rumah tangga, apakah kita sudah mengetahui dan menata, bagaimana, kemana dan akan seperti apa sebuah rumah tangga ini akan dibawa ?, apakah bebas berjalan begitu saja tanpa arah ?. Itulah yang seharusnya ditata sejak awal, berniatkan sesuatu yang baik dan dimulai dengan sesuatu yang baik dengan berbagai tujuan yang terarah.

            Memang benar, berbicara lebih mudah daripada melakukan dan menerapkannya hingga terwujud suatu tujuan tersebut. Tapi kita harus tahu bahwa, segala sesuatu dalam hidup tidak dapat diraih dengan mudah dijalan yang benar, segala sesuatunya butuh pengorbanan, seberapa kecilpun pengorbanan itu dan seberapa kecilpun suatu usaha semuanya tetaplah ada harganya. Itulah sebabnya hidup menjadi berharga. Jika tidak orang akan menyia-nyiakan hidupnya. Tanpa usaha, tanpa pengorbanan karena semuanya diraih dengan mudah sehingga tidak lagi butuh usaha dan penghargaan untuk usaha tersebut.

            Di dalam sebuah rumah tangga, semuanya sangat berfungsi dan memiliki kedudukan penting satu sama lain. Seorang suami yang memiliki tugas rangkap dan seorang istri pun juga memiliki tugas rangkap yang sama-sama pula bebannya. Tidak ada yang lebih besar dan lebih kecil antara keduanya. Ketika Akad telah diikrarkan dengan stempel “Sah” maka keduanya memiliki tugas yang sama beratnya. Namun yang membedakan disini suamilah sebagai kepala keluarga, tempat tanggung jawab terbesar untuk dunia dan akhirat.

            Itu hanya tentang tugas dan tanggung jawab, bukanlah sebuah masalah ataupun beban dari pernikahan. Jika itu sebuah beban maka dari awal kita tidak meminta, tapi diberi. Tapi karena tugas dan tanggung jawab itu sudah diambil dengan kesanggupan seorang suami dan istri melalui jalan pernikahan, maka itu bukan sebuah beban. Karena kesaggupan yang sudah diambil memalui jalan menikah adalah wujud dari permintaan diri bahwa keduanya telah siap untuk menjalaninya. Segala sesuatunya akan terasa ringan dan bukanlah suatu beban jika dijalani berdua dengan sabar dan hanya mengharap pertolongan dari-Nya serta Ridho-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s