Dua Di 25 November


10352598_590246561072533_1187479358504778703_n

Hari itu aku ingat betul kejadian yang terjadi pada hari selasa, 25 November 2014. Pagi hari mendapat peringatan sebelum pergi ke kampus untuk mengenakan baju batik, dikarenakan memperingati hari guru nasional yang biasa diperingati pada tanggal 25 November.

Malamnya aku berbicara dengan Ibuku melalui telfon, bahwa esok ada hari guru nasional dan juga Ibuku yang memberitahukan keadaan Masku yang Alhamdulillah membaik. Sebelumnya ia sudah sakit sekitar kurang lebih sekitar sebulanan setelah aku pergi ngekos dan kuliah perdana. Aku dan semuanya tak pernah mengira bahwa ia akan pergi begitu cepat seperti apa yang sudah Allah tuliskan untuk Masku sebelumnya.

Pagi itu, aku menjalani hari seperti biasa. Karena ada hari guru nasional semua fakultas keguruan dan ilmu pendidikan mengadakan acara serentak pada jam 9 pagi untuk berkumpul di balkon dan di depan danau untuk menyanyikan lagu Hymne Guru, dan rangkaian acara kecil namun serentak dan meriah saat itu. Setelahnya keadaan kembali seperti semula, kembali ke kelas masing-masing. Untungnya jam pelajaranku sampai jam 10 jadi setelah acara itu tidak ada lagi mata kuliah. Dan sejak saat itulah aku merasakan firasat aneh. Aku merasa ingin pulang cepat-cepat, aku merasa tidak enak dengan suasana hatiku. Padahal semua baik-baik saja.

Akhirnya aku berpamitan pulang ke kos lebih dulu. Dan sesampainya di kos, aku tetap merasa tidak nyaman, malah badanku terasa dingin semua tidak seperti biasanya. Tapi aku merasa baik-baik saja, benar-benar aneh aku tidak bisa menggambarkannya lebih dari itu. Aku putuskan untuk tidur saja, siapa tahu setelah bangun nanti perasaan tidak enak itu hilang.

Tapi tetap saja aku tidak bisa tidur, hanya memejamkan mata, bergulang guling di kasur dan sebagainya. Hingga hari mulai senja sekitaran jam 4 sore, ada yang mengetuk pintu kamarku.

“Ga, Ega….” Akupun langsung bangun dan membukanya. Dan ternyata beliau adalah Ibu kos.

“Oh.. iya bu… ?.”

“Kamu kenapa ko tumben pulang pagi langsung tidur, kamu sakit ?.” Tanya beliau yang begitu perhatian kepadaku, memang beliau sangat perhatian kepada penghuni kos. Tidak hanya itu beliau juga sangat murah hati, seringkali masakan, makanan ia sediakan bagi siapa saja yang mau makan. Beliau baik dan supel, membuat penghuni kos merasa nyaman dan menganggapnya seperti orangtua sendiri. Tapi beliau tidak tinggal satu rumah dengan para penghuni kos, hanya Mbah Haji yang menunggui rumah kos itu bersamaku dan penghuni kos lainnya. Mbah Haji adalah Ibu angkat dari Ibu kos, beliau juga sangat baik dan ramah serta murah hati. Sampai-sampai aku akrab sekali dengan beliau. Beliau juga sangat perhatian padaku, selalu menanyakan keadaanku jika sedikit ada yang berbeda dari diriku. Atau biasanya menghantarkan kue dengan menyelipkannya di jendela kamarku. Subhanallah aku sangat merindukan beliau-beliau orang baik yang sudah aku anggap keluarga sendiri di rumah kos itu.

Percakapan berlanjut.

“Ohehe, engga bu, saya ngga sakit ko. Cuman kerasa capek saja.”

“Ayoo sini ke belakang, aku buat nasi goreng empok (makanan jawa), kamu mau kan nasi empok ?.” Tanya beliau sambil bertolak kembali ke belakang.

“Mauuu buk, waaah si Ibu tau aja kalau akunya belum makan hehe.” Sambil jalan kebelakang.

“Panggil Ana, Guntari sama Tika ya. Yang lainnya kayanya lagi pada keluar.”

Pergilah aku memanggil mereka, namun hanya Mbak Ana dan Guntari saja yang berhasil membuka pintu dan ikut ke meja makan bersama.

“Buk kayanya Tika juga ngga ada dehh buk, di ketok ketok ngga ada jawaban.”

“Ohiya sudah kalau gitu, itu nasinya, kalian ambil sendiri di wajan, makan bareng disini.”

Makanlah kami bersama-sama. Aku, Mbak Ana, Guntari, Ibu kos dan Mbah Haji. Makan bersama dan bercanda setelah itu sambil tertawa terbahak-bahak seakan-akan apa yang sudah aku rasakan tadi hilang bersama candaan dan deru hujan yang terdengar cukup deras. Sampai pada akhirnya kami bubar karena sudah hampir maghrib  dan aku berpamitan untuk segera mandi sore.

Setelah mandi, dan berdiam di kamar dengan suara hujan yang terdengar semakin deras tanda malam nanti baru akan reda, kalau reda. Aku pun ingat bahwa tilawah ODOJku kurang beberapa halaman di Juz 15, masih ingat saat itu. Dan aku pun melanjutkannya, namun di tengah-tengah sedang asik bertilawah berbalapan dengan suara hujan, HP.ku tiba-tiba bergetar. Sengaja aku stel getar saja karena takut lupa bila di kampus lupa mensettingnya.

Aku lihat nama pada panggilan masuk. Ternyata telfon dari Ibuku, segeralah aku mengangkatnya dan sejenak memberhentikan tilawahku saat itu.

“Assalamualaikum, Ega… ?.” Suaranya terdengar parau dan lirih. Tapi aku mencoba biasa.

“Waalaikumussalam buk, Ibuk kenapa ?.” Tak tahan langsung bertanya keadaannya setelah menjawab salam

“Ega lagi dimana ?.”

“Lagi di kos buk, Ibu kenapa ?.” Pertanyaanku ku perjelas karena Ibu tak menjawabnya.

“Ega, ini Ibu lagi di RS, lagi di UGD.” Jawab Ibu sambil menangis diseberang. Aku mendengarnya sontak bingung dengan apa yang terjadi sampai beliau menangis menelfonku.

“Loh… buk siapa yang masuk RS ? ko Ibu nangis ?? Embah ya buk ?.” Aku sama sekali tak pernah berpikiran bahwa itu adalah Masku, aku kira Embah yang masuk rumah sakit mengingat beliau yang sudah tua renta dan sering mengeluh sakit sana sakit sini.

“Bukan ga, Masmu… Mas Rofan.” Kembali tangisnya pecah.

“Ya sudah buk, aku pulang sekarang.” Tanpa berpikir panjang dan tanya kenapa aku langsung mengabarkan untuk pulang karena jujur saat itu perasaanku kembali kacau. Dan setelah Ibu menutup telponnya aku segera bergegas ganti baju sambil menelfon sepupuku yang siapa tau aku bisa nebeng pulang saat ianya pulang kerja. Tapi ternyata dia sudah pulang lebih dulu dari jam 4 tadi, Tanpa berpikir panjang aku meminta bantuan Mbak Ana yang memang saat itu hanya dia yang punya motor dan sedang nganggur di kos. Alhamdulillah dia bersedia mengantarkanku. Awalnya aku kasihan jika dia mengantarku sampai Lawang dan aku memintanya untuk mengantarku di dekat masjid Kepuh untuk bisa menemukan angkutan umum tapi dia menolak karena saat itu hujan deras dan sudah masuk waktu maghrib. Semoga Allah membalas kebaikannya yang bagiku saat itu waktu sangat berharga. Namun sebelum berangkat Ibu kembali menelfon dan memintaku untuk menghubungi Mas Yoga, dia adalah Kakak pertama. Karena Ibu pernah bisa menghubungi nomor Hpnya saat itu. Dan ternyata sama saja tak bisa dihubungi. Akhirnya tak kehabisan cara aku menghubungi saudaraku yang lain yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan rumah Mas Yoga untuk meminta tolong mengabarkan berita itu.

Akupun berangkat bersama Mbak Ana dengan hujan deras dan semakin deras saja rasanya. Perjalanan ditempuh sekitar setengah jam lebih sampai RS dan ku temui Ibu disana dengan mata sembab dan Ayah. Namun sesegera mungkin aku meminta untuk ijin sholat dahulu sebelum masuk UGD. Setelahnya sholat, aku meminta kepada sang Maha Pemberi dan Pemurah atas segala sesuatu dan permintaan para hamba-Nya.

Setelahnya aku masuk ke ruang UGD yang ditemani Mbak Ana saat itu, berjalan dengan hati-hati, tidak banyak orang yang ada disana, hanya ada Masku saja beserta para Dokter dan perawat-perawatnya. Setelah memasuki ruangan lebih dalam aku merasa begitu shock dan tidak lagi bisa berkata apa-apa. Iya ini sungguh membuatku lemas dan kehabisan kata-kata. Dalam hati hanya dapat berkata “kenapa bisa seperti ini ?”. Tidak hanya itu, semua terasa terhenti di dalam hati melihat banyak peralatan medis yang dipasangkan ke tubuhnya. Sungguh tak mampu rasanya melihatnya dalam keadaan berbaring dengan nafas yang terengah-engah seperti sulit mengambil nafas. Sekalinya dapat terambil ku perhatikan dada dan tenggorokannya begitu cekung ke dalam.

“Allah…. bagaimana bisa seperti ini ? sakit apa dia sebenarnya ?.”

Baru pertama kali aku melihatnya dalam keadaan sakit yang benar-benar menjadi begitu tak berdaya. Tamat-tamat kuperhatikan dengan air mata yang tak tertahankan.. ia sungguh pucat seperti kulit yang tak punya warna darah, bahkan pandangannya begitu berat mengarah kesana kemari mengikuti nafasnya yang begitu sulit.

Aku hanya bisa berdiri setelah itu dengan memandangi monitor detak jantung yang dipasang untuk tetap mendeteksi jantungnya. Sungguh aku tak punya daya melihatnya. Apapun itu ini adalah hal tersulit yang pernah aku lihat, karena sebelumnya ia adalah anak Ibu yang jarang sekali bahkan hampir tidak pernah sakit selain penyakitnya yang dari sejak kecil itu.

Kemudian aku hanya duduk di samping ranjang, dan Mbak Ana berpamitan untuk keluar menemani Ibuku. Aku ? hanya diam terpaku melihatnya sambil mengusap telapak kakinya yang terasa dingin. Lalu tidak lama Ibu dipanggil Dokter dan masuk ke ruangan yang sama namun hanya berjarak 4 meteran, beberapa saat Ibu berbicara dan seselesainya beliau berbicara dengan sang Dokter aku menghampirinya dengan segera dan menanyakan, apa yang sebenarnya terjadi, Dia sakit apa ?. Tapi belum sempat Ibu menjawab, beliau tiba-tiba pingsan dan dibawa ke ruangan lain.

“Allah….. aku tak mengharapkan apapun jika kesempatan berharap itu hanya ada sekali untuk saat ini dan malam ini, aku hanya ingin dia sembuh.”

Akhirnya aku beranikan menghadap ke dokter demi mencari jawaban atas pertanyaan yang tak sempat terjawab. Dan aku pun masih tak memperolehnya dengan mudah, beliau begitu menanyakan akan keyakinanku dapat kuat menerima apapun jawabannya. Sungguh ini pertanda, tapi sekali lagi aku sedang berharap lebih dari sekedar apapun hal yang pernah kuharapkan untuk terwujud pada saat itu juga. Setelah aku menyatakan bahwa aku siap apapun jawaban dan pernyataan dokter, beliau mulai berbicara akan apa yang sudah dialami Masku. Bahwa dia sakit gagal ginjal kronis yang mungkin keadaan akan membaik jika Allah berikan mukjizatnya kepadanya malam itu. Dokter berkata bahwa ini sudah parah, dan mungkin bisa dikatakan sudah terlambat. Aku yang saat itu mendengarkan benar-benar apa yang beliau bilang, hanya diam terpaku sampai kaki ini terasa kaku untuk bergerak.

Sebegitu tiba-tibanya semua terjadi. Sungguh aku memujiNya Yang Maha Agung atas segala ketentuan-ketentuanNya. Ya Rabbi…..

Aku kembali ke ruangannya dan duduk disamping ranjangnya. Sejak aku datang, ia hanya dapat mengambil nafas tanpa berkata apa-apa. Akupun sadar akan kesulitan ia mengambil nafas sekalipun slang oksigen membantunya. Tapi sesaat setelah aku duduk disamping ranjangnya tiba-tiba dia berbicara kepadaku dengan sangat pelan. Dia menanyakan tentang keadaan Ibu yang sempat ia lihat ketika Ibu pingsan tadi. Tapi begitu gigih demi keadaannya yang penuh harap aku menjawabnya bahwa Ibu baik-baik saja. Kemudian ia berkata kembali padaku.

“Sakit….”

Disaat itulah hatiku terasa bingung dan tersayat mendengar dia mengeluh setelah beberapa jam menahan sakit yang aku sendiri tak pernah membayangkan betapa sakitnya menjadi dia.

“Sebelah mana yang sakit ?.” Aku coba menjawab pertanyaannya, karena sebenarnya aku sangat tidak tega melihatnya susah bernafas namun masih berusaha berbicara. Tapi dia diam tak menjawab. Aku hanya kembali mengelus-elus telapak kakinya dan mencoba menghangatkannya. Dan dia kembali berbicara lagi padaku.

“Aku pengen pipis.”

“Iya Mas pipis aja kan udah dipasang slangnya.” Aku mencoba menenangkannya

Dan selanjutnya dia diam saja… Sungguh aku merasa sulit dalam keadaan itu.Tak sanggup melihat matanya, karena disanalah terlalu banyak duka dan sakit yang tertinggal begitu membekas. Aku tak sanggup!! Melihat seseorang yang pernah menjalani masa-masa sulit bersama, hidup hanya berdua serumah dengannya. Bercerita tentang hari-harinya tanpa sekolah, tanpa bekerja diusia yang seharusnya karena penyakitnya sejak kecil dan tak pernah ada teman yang berniat tulus untuk menemaninya dalam hari-hari sepi kosong tanpa kegiatan seperti orang-orang seusianya. Berbagi makanan walaupun hanya sedikit, saling bantu membantu membersihkan rumah ketika sama-sama disuruh Ibu, dan selalu saja dia tak pernah berkata tidak untuk membantu dan menolong semua orang walaupun itu akan membahayakan dirinya. Aku tak bisa, Allah… aku tak mau menangis di depannya. Aku tak mau dia bertanya, karena sungguh aku tak akan pernah mampu menjawab dan memberitahunya.

Dan hal yang tak pernah aku sangka-sangka bahwa setelah itu adalah saat-saat dimana dia berbicara denganku untuk yang terkahir kalinya.

“Aku ngga kuat !.” Itu adalah kata-kata terakhir yang aku dengar langsung dari mulutnya, untuk yang terakhir kalinya.

“Engga, Mas ngga boleh ngomong gitu…. Mas kuat kok pasti kuat, aku panggilkan Ibu ya.”

Setelah Ibu datang, karena Alhamdulillah saat itu beliau sudah ditenangkan oleh Ayah dan Budhe dan Pakdhe yang saat itu ada disitu. Mas Yoga masih belum bisa dihubungi, seandainya dia tahu bahwa akan terjadi seperti ini.

Kemudian aku berpamitan untuk segera sholat Isya sekalian Mbak Ana berpamitan untuk pulang ke kos.

Sekitar setengah 8 lebih, aku kembali dari mushola.. dan kutemui Ibu yang lagi-lagi setengah sadar, tanpa menunggu lagi aku langsung masuk ke ruang UGD dan kulihat beberapa Dokter dan dua perawat mengerubunginya, sedang Ayah juga ada disitu. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi ?. Aku menghampiri Ayah dan beliau menanyakan hal yang sama akan keyakinanku, sama seperti awal pertama saat Dokter ingin memberitahuku perihal penyakitnya. Firasatku sangat burut saat itu tak dipungkiri sesuatu yang diharapkan akan terjadi.

“Ega kuat ?.”

“Emang Mas Rofan kenapa ? kok banyak dokter kesitu ?.”

“Mas udah Nadza’, kalau Ega kuat ayo kita kesana kita bisikkan ayat-ayat Allah kepadanya.”

Allah, pecah telingaku mendengarkan itu, runtuh hatiku menerima apa yang sudah ayah katakan…. sekali lagi aku kembali penuh harap, tak percaya pasti dia kuat dan bisa diselamatkan. Mungkin itu hanya masa kritis yang nantinya ia akan mampu melewati, akhirnya demi dia penuh yakin aku mampu melangkah ke ruangan yang berjarak 4 meter dari tempat aku dan ayah berdiri.. ruangan itu hanya tertutup tirai tinggi berwarna oranye. Bismillah aku melangkah dengan ayah. Sesampainya aku hanya bisa melihat tubuhnya yang tak lagi bergerak sedang Dokter berusaha dan terus mencoba untuk menolongnya dengan berbagai alat sedang aku dan ayah membisikkan ayat-ayat Allah disisinya… Sampai mungkin sekitar setengah jam… Dokter menyatakan bahwa sudah tidak lagi bisa, mendengar itu lumpuh kakiku tak kuat lagi aku berdiri menguatkan dia yang Dokter bilang sudah tidak ada. Namun tiba-tiba tirai terbuka dan menerobos para Dokter yang saat itu masih mengerubungi kami. Dia, Mas Yoga yang muncul tiba-tiba saat dia sudah tiada. Ayah meninggalkan kami berdua, dengan masih adanya Dokter disitu dan kulihat dipelupuk mata Mas Rofan mengalir sebutir air mata. Kuusap air mata terakhir yang tak pernah kulihat seumur hidupku dan memeluknya juga menciumnya untuk yang terakhir kali. Setelah itu Dokter memintaku untuk memanggil Ibu dan memberitahukan hal ini, sengaja Ibu tidak dijinkan melihat karena Ibu memang sangat lemah bahkan tidak lagi mampu menerima kabar dan hasil yang tak diharapkan.

Sungguh berat menjawab pertanyannya.

“Ga, gimana ? Masmu ngga papa ? baik-baik aja dia ?.”

“Mas ngga papa kok bu, Dokter minta Ibu masuk ke dalam.”

“Oh iya ayooo.”

Iya semuanya berharap baik-baik saja, begitupun Ibu yang punya harapan terbesar dari apapun bahwa anaknya sudah kembali stabil setelah dikerubungi banyak Dokter. Tapi apa ? setelahnya sampai di ruangan, Dokter langsung menyampaikan berita bahwa anaknya yang nomor 2, Masku… dia sudah tidak ada tepat setengah 9 malam dan kemudian semua. peralatan medis dilepas.

Ibu langsung histeris dan pingsan.

Aku harus kuat, demi Mas demi Ibu. Ibu sudah seperti ini, sebentar-sebentar pingsan. Aku harus kuat demi dia…. ini adalah saat-saat terakhir aku melihatnya dan bersamanya, takkan kulewati malam ini hingga hari esok bersamamu. Dengan berdo’a untukmu adalah cara terbaik untuk menemanimu saat ini Mas…

Dear Mas…..

Hari-hari bersamamu terasa begitu cepat, lembaran-lembaran hari telah terisi. Untuk hari-hari kita ? bermakna ataupun tidak aku sangat ingin mengulangnya. Mengulang yang tidak bermakna menjadi bermakna. Lebih memperhatikanmu, menyayangimu lebih dari waktuku untuk diriku. Mungkin saat ini hanya kenangan yang hidup dalam hari-hariku, tak pernah seharipun aku tak mengingatmu hingga kini. Aku tahu Allah lebih dan sangat sayang terhadapmu, hingga ia memilihkan pilihan terbaik untuk hidupmu yang tak lagi ada rasa sakit seperti setiap hari yang kau rasakan. Harus hidup dengan obat-obatan seumur hidup, sampai-sampai membuat ginjalmu rusak karena terlalu banyak dan selalu mengkonsumsi bahan-bahan kimia itu. Sedikitpun rasa sakit yang kau derita dari kecil hingga akhir hidup tak pernah bisa dibagi walau sedikitpun.

Mas….. Setelah ini dan kedepannya, ada banyak hari yang tak kami lewati bersamamu. Entah seperti apa rasanya, karena kami tahu kematian adalah hal yang akan dialami oleh semua makhluk hidup yang pernah hidup. Semua hanya akan dikatakan dalam hati dan tertahan di hati. Karena kini kau hanya hadir di hati.

Jika, ada kesempatan dalam sekali waktu bisa kembali, aku ingin menggunakan kesempatan itu engkau bisa hadir dihari pentingku, sekali seumur hidupku. 😥

Hanya dengan do’a kami bisa mencintaimu, hanya dengan do’a kami memperhatikanmu, hanya dengan do’a kami selalu mengingatmu.

Lawang, 10 Februari 2015

2.00

Lawang, 10 Februari 2015
2.00

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s