Jodoh Itu Tidak Dengan Pacaran


“Aku suka sama kamu, aku udah sayang sama kamu ! kamu mau ngga kalo kita jadian ?.” (Laki-laki)
“emmm……………. sebenarnya aku juga ada rasa sama kamu !.” (Perempuan)

“Jadi, kamu mau jadi pacar aku ?.” (Laki-laki)

“Ya, bisa kita coba.” (Perempuan)

Sedikit percakapan singkat yang biasa mengawali bahtera pacaran anak muda jaman sekarang.

Sebenarnya, apa sih pacaran itu? Pacaran adalah ketika seorang laki-laki menyatakan perasaan cinta kepada seorang wanita dan dia menerimanya. Disitulah awal muawal pacaran.

Tapi sebelumnya, adapun sejarah kata pacaran ini berasal dari masyarakat melayu. Suatu hari masyarakat melayu memiliki budaya memakaikan pacar air yang biasa mereka sebut Inai, kepada laki-laki dan perempuan yang ‘ketahuan’ saling suka atau saling tertarik oleh keluarganya. Dan biasanya sang lelaki yang memiliki perasaan kepada seorang gadi atau perempuan mengirimkan seorang pembaca pantun yang akan berpantun tepat di depan halaman rumah sang perempuan. Jika sang perempuan membalas pantun dari sang lelaki itu yang menandakan setuju untuk melanjutkan hubungan, maka kedua orangtua belah pihak memakaikan pacar air kepada keduanya. Pacar air tersebut atau Inai adalah lambang dari kedua pemuda-pemudi tersebut telah menjalin dan memiliki hubungan. Inai tersebut akan memudar dan hilang dalam waktu kurang lebih 3 bulan, disinilah letak tanggung jawab apabila dalam selang waktu 3 bulang sang pemuda tak kunjung bersiap hendak melamar sang gadis sampai inai tersebut hilang, maka sang gadis boleh memutuskan hubungan dan menerima pinangan pemuda lain.

Itulah asal muasal sejarah dari yang biasa disebut pacaran, berbeda dengan arti pacaran jaman sekarang yang memang notabene menjadi sebuah budaya bagi kaum muda-mudi modern. Dengan arti ‘jadian’ atau pacaran yang mereka artikan bahwa ‘kamu adalah milikku dan aku adalah milikmu.’ Rasanya tidak memiliki pacar alias jomblo itu tidak gaul, atau bisa dibilang tidak modern, jadul, katrok dan sebagainya. Memang benar, karena budaya pacaran semakin berkembang di dunia barat yang notabene masyarakat sering mencotoh budaya barat sebagai artian modern. Sedangkan pacaran, kencan, ngedate termasuk dalam budaya barat yang cukup berkembang dan membudidaya dimasyarakat kita.

Modernkah kita dengan Pacaran ?

Bagaimana dengan gaya pacaran ? apakah sama dengan gaya pacarannya orang-orang barat ? Sepertiya iya, karena segala macam aktifitas muda-mudi yang menganut budaya pacaran sebagian besar tidak dapat menjaga dirinya seperti apa yang dilakukan orang-orang barat saat pacaran. Dan itu mereka lakukan seperti hal yang sudah biasa dilakukan, seharusnya kita lebih selektif memilah dan memilih segala budaya dan sesuatu yang hendak kita jadikan budaya dan kebiasaan kita. Karena segala sesuatunya pastilah memiliki resiko dan dampak sendiri-sendiri.

Haruskah kita pacaran untuk menjadi pemuda-pemudi yang ‘Modern’? haruskah kita jalan bareng dan menghabiskan waktu-waktu bersama pacar ?   dan haruskah itu semua dilakukan demi kata modern dalam kehidupan dimasa kini ? Tidak, untuk menjadi seseorang yang modern, tidak harus pacaran dan memiliki pacar. Orang yang modern adalah ia yang mampu berfikir apa-apa yang baik bagi dirinya dan baik bagi hidupnya, karena dengan memikirkan hal itu ia akan berupaya bersiap hidup dimasa depan yang apik dan tertata dengan tepat, dengan kurun waktu yang ia jadikan proses untuk menyiapkan masa depan sebaik-baiknya.

Tidak dengan pacaran yang diakui tidak pacaran lebih banyak manfaatnya terutama bagi dirinya sendiri dan dengan sendirinya kata modern akan menjadi suatu kata yang tepat dalam keberhasilan dimasa depan. Apa menjadi modern harus menunggu sampai dimasa depan ? tentu tidak, bagaimana proses kita berfikir cara kita bertindak dengan tepat sudah menjadi kata modern. Modern bukan berarti menghancurkan masa depan, modern yang berarti sukses dimasa depan. Tidak lain dari sudah memanfaatkan waktu memperbaiki diri bersiap untuk bersaing dimasa depannya yang tidak hanya digunakan untuk bersenang-senang yang bukan masanya. Ingatlah segala sesuatunya akan jujur dengan resiko dan akibat dari tindakan masing-masing.

“Orang modern dia yang mampu membawa dirinya berjalan yang berujung kebaikan, bukan berjalan namun berujung kesedihan.”

            Jika pacaran itu banyak memiliki manfaat, kenapa Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam tidak mencontohkan hal itu ? bukankah kita banyak berkata Al-Quran dan As-Sunnah yang kita jadikan pedoman dalam hidup sebagai petunjuk jalan dari setiap kegelisahan dan masalah ? sudah jelas ALLAH SWT melarang dan mengharamkan pacaran dan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah menyeru dan mencontohkan hal tersebut, oleh sebab itu orang yang hidup dijaman dulu lebih cenderung takut dan tidak mengenal istilah pacaran ketimbang dimasa sekarang yang justru membudaya jalan penghancur masa depan pemuda-pemudi yang seharusnya berfokus pada masa depan yang lebih baik.

 

Kenapa sih harus pacaran ?

Kenapa sih harus pacaran ? apa hanya dengan pacaran jalan menuju pernikahan dan terucapnya janji suci ?. Sebagian orang menganggap pacaran merupakan suatu hal yang sudah biasa atau bahkan sudah menganggap bahwa pacaran termasuk proses sebelum seseorang memantapkan pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk menikah dengan orang pilihannya. Sehingga mereka menganggap pacaran termasuk dalam proses penjajakan atau saling mengenal sebelum memutuskan untuk menikah dan hidup bersama. Pemikiran dan pendapat ini justru karena membudayanya pacaran dijaman sekarang dan membuat paradigma bahwa pacaran termasuk proses dan hal biasa sebelum seseorang lebih jauh melangkah ke jenjang pernikahan, sebagai wujud proses untuk memilih calon pasangan.

Sedangkan kita sama-sama tahu dan membuka mata melihat contoh dimana-mana, bahwa tidak sedikit anak-anak muda yang gagal menggapai masa depan, sesuai impian mereka karena suatu kegagalanyang tidak lain juga dari pacaran. Bahkan anak-anak sd, smp sudah cukup paham dan ada sebagian yang mulai menerapkan budaya pacaran yang pada dasarnya mereka masih belum tahu apa tujuan mereka sebenarnya, apa yang mereka inginkan dan seperti apa pencapaiannya. Ini semua dikarenakan, membudayanya pacaran di masyarakat hingga membuatnya lazim untuk dilakukan.

Kenapa sih harus memilih pacaran yang notabennya banyak sekali Mudhorot yang terkandung di dalamnya. Padahal jika kita mau menyiapkan dan menyajikan yang terbaik untuk hidup kita tanpa harus merugikan diri kita, tidak dengan pacaran. Islam sangat memudahkan, mengindahkan, dan mensucikan kaum perempuan khususnya karena dimana kaum perempuan sejak kedatang Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam telah merubah segalanya dan kedudukan wanita menjadi dilindungi dan diistimewahkan. Begitupun juga dengan pria. Pria yang baik tidak akan pernah berniat untuk membuat rendah kedudukan sang wanita, tidak memperlakukan seirang wanita dan merugikannya. Wanita diibaratkan dengan perhiasan dunia, karena dia begitu istimewah, letak istimewahanya seorang wanita adalah, dari akhlak dan cantiknya hati luar dalam. Dan seorang wanita yang berakhlak pastilah berdasarjan cinta dan rasa takut kepada Rabb-Nya. Dan bagaimana ia menempatkan dirinya sebagai seorang wanita muslim yang baik. Wanita pula sebagai letak godaan dan fitnah, itu semua terjadi karena seorang wanita tersebut tidak dapat menempatkan dirinya pada kedudukannya sebagai seorang wanita muslim baik.

Dan Allah memerintahkan kepada kita di dalam Al-Qur’an untuk menjauhi hal yang dilarang dan menjerumuskan kita ke dalam jalan yang salah dan menyebabkan murka ALLAH SWT saja semata-mata untuk menjaga kita dan demi kebaikan kita, segala sesuatunya tentu beralasan. Segalanya telah ada dan sudah disiapkan termasuk jodoh yang adanya sangat rahasia, Dengan pacaranpun kita tidak pernah tahu siapa jodoh kita. Dan kita juga tidak bisa menentukan siapa yang kita pilih menjadi jodoh kita. Adapun ALLAH SWT melarang sesuatu yang banyak mengandung mudhorot karena ALLAH telah memiliki jawaban yang baik yang juga membawa kebaikan untuk hamba-Nya. ALLAH menentukan untuk melarang sesuatu itu dikerjakan pastilah memiliki alasan juga demi kebaikan para hamba-Nya. Tetaplah percaya dan selalu berpositif thinking pada ketetapan dan ketetentuan ALLAH SWT.

Untuk mengetahui dan mendapatkan seseorang yang kita harapkan dalam hidup kita, tak perlu lah ada masa penjajakan berkedok pacaran. Tak perlu lah khawatir bagaimana jodoh kita nantinya. Bukankah ALLAH SWT Maha Tahu lagi Maha Mengetahui apa-apa yang hamba-Nya tidak tahu dan belum tahu. Yang selalu memberikan sesuatu terbaik bagi tiap-tiap hamba-Nya. Bahwa setiap manusia diciptakan secara berpasang-pasangan. Maka pada intinya ALLAH sudah menyiapkan jodoh kita dan tak perlulah kita mengotori diri dengan berusaha berpetualang jatuh bangun mencari siapa jodoh kita. Usaha tentu dapat, bahkan harus dilakukan. Tapi usaha yang bagaimana yang harus dilakukan dalam hal menemukan jodoh? Yang pasti, tentu tidak dengan pacaran !!

Apa yang harus dilakukan dalam menanti dan mencari jodoh ?

  • Do’a memudahkan segalanya

Berdo’a adalah kunci dimana letak kesungguhan dan kepasrahan diri atas usaha yang telah dilakukan, yang secara langsung berhubungan kepada ketaatan serta kepercayaan kita terhadap Tuhan, atas segala yang ditentukan-Nya. Do’a juga merupakan kekuatan yang luarbiasa. Bahkan mampu mengalahkan segala-galanya, serta mampu merubah sebuah takdir. Tentu semua itu sesuai dengan kehendak-Nya Yang Maha Berkuasa. Maka jangan remehkan sebuah do’a. Karena kitaa tidak akan pernah tahu kapan, dimana dan bagaimana do’a kita dikabulkan. Tapi kita tidak boleh berputus asah karena segala sesuatunya didapatkan dengan usaha dan pengorbanan. Dan do’a termasuk daripada usaha yang langsung menggantungkan diri sepenuhnya kepada Dia yang mengabulkan do’a semua makhluk-Nya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi ALLAH Ta’ala selain do’a.” (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829, Ahmad 2/362. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

ALLAH SWT. memerintah semua para makhluknya untuk berdo’a kepada-Nya. Dan ALLAH SWT. akan mendengar setiap do’a yang dipanjatkan oleh hamba-Nya dengan penuh keyakinan terhadap-Nya. Adapun haditsnya,

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

“Berdo’alah kepada ALLAH dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan Ketauhilah bahwa ALLAH tidak mengabulkan do’a dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi no. 3479 Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan )

Kekuatan do’a sangat luar biasa, sebagai senjata kepada-Nya dalam meraih harapan dan keinginan. Setiap orang memiliki keinginan, harapan, impian dan cita-cita. Dan untuk meraihnya selain berusaha dan berikhtiar, do’a menjadi kekuatan yang sangat berpengaruh pula. Untuk jangan sampai kita menjadi orang yang sombong. Karena orang yang sombong adalah orang yang tidak mau berdo’a, walaupun dan bagaimanapun alasannya. Do’alah yang membuka segala kesulitan, halangan dan mempermudah segala-Nya.

  • Memantaskan diri dalam masa penantian

Seperti kata pepatah, menunggu adalah hal yang membosankan. Terlebih lagi jika sesuatu yang ditunggu tak kunjung datang, dan acara menunggu itu masih terus berlanjut. Pasti lelah bukan ? jenuh dan bosan dengan keadaan diri sendiri, menanti seseorang pendamping hidup yang dinantikan untuk segera datang. Belum lagi jika dicerca dengan pertanyaan-pertanyaan tentang jodoh oleh orang terdekat ?. Tidak ada yang bisa menjawab, karena kedatangan dan kepergian seseorang dalam hidup kita sudah dijadwalkan oleh ALLAH SWT. Begitupun dengan kedatangan sang pangeran hati.

Dalam masa penantian yang kita sebagai manusia tak pernah tahu kapan jodoh kita akan diberikan oleh Sang Maha Kuasa, sebaiknya kita pergunakan waktu-waktu itu untuk lebih membuat diri kita menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Belajar memanfaatkan waktu dimana kesendirian melatih kita untuk lebih mandiri dan menjadi pribadi yang lebih siap untuk menerima jodoh kita dan menapaki kehidupan selanjutnya bersamanya. Bukan kegalauan yang dipilih menjadi jalan renungan dan meratapi segala sesuatu yang dapat mengikis waktu kita yang seharusnya mampu kita manfaatkan untuk hal-hal yang jauh lebih baik dan berguna terutama untuk diri kita. Dan jangan sampai apa yang kita lakukan dengan waktu itu berujung penyesalan secara disengaja maupun tidak.

Untuk memantaskan diri dalam masa penantian banyak sekali yang seharusnya kita lakukan dalam rentang waktu menanti jodoh kita seperti, Lebih meningkatkan karir dan fokus di dalamnya, sembari berdo’a yang menjadi kepasrahan seorang hamba yang beriman yang mempercayakan segalanya pada Rabbnya. “Sambil menyelam minum air,” Seperti kata pepatah tersebut yang dimana diartikan tetap berdo’a dan berusaha namun karir tetap berjalan untuk menghilangkan kejenuhan dan pikiran yang tidak diharapkan. Dengan begitu, masa penantian tetap berlanjtu dengan perjalanan yang membuat keuntungan pada diri sendiri.

Selama kesendirian masih menjadi status dalam hidup (single) tanpa siapa-siapa yang harus diperhatikan, sebagaimana waktu kita tentu terluang banyak untuk membagi kasih sayang dan cinta kasih kita kepada orang-orang terdekat. Mencurahkan cinta dan perhatian, waktu luang bersama keluarga yang menjadi orang paling dekat dengan kita, dan meningkatkan tali silaturahmi dengan sahabat dan teman-teman yang tentu kesemuanya baik dilakukan. Sehingga, sendiri yang dimaksut bukan berarti sendiri yang benar-benar tanpa siapa-siapa dan kesunyian melanda mengundang rasa galau, gundah gulana dalam hati.

“Single yang berkualitas adalah dia yang bersiap yang mampu membuat dirinya dan waktunya tidak sia-sia dalam penantian jodohnya.”

  • Sebanyak Mungkin Mencari dan Menggali Ilmu

Sebagaimana kita dalam hidup sangat membutuhkan ilmu sebagai modal pengetahuan kita, sebagai bekal kita untuk menghadapi berbagai persoalan dalam hidup. Karena segala sesuatunya memiliki ilmunya sendiri-sendiri. Seseorang dapat menjadi tau dan melakukan sesuatu dengan benar dan tepat karena ia telah memiliki bekal berupa ilmu. Dan kualitas seseorang dalam melakukan sesuatu pun juga tergantung dari kualitas ilmu yang didapat kemudian ia pahami dengan baik.

Kembali kepada sub judul “Sebanyak Mungkin Mencari dan Menggali Ilmu,” setelah menjalani hidup berumah tangga banyak sekali yang perlu dipersiapkan, baik kesiapan mental dan kesiapan ilmu dalam menjalani hidup yang tidak lagi disebut single. Menjalani hidup setelah menikah seperti halnya membangun taman bunga yang di dalamnya banyak sekali harapan untuk taman bunga itu menjadi indah, bunganya bermekaran dan tanahnya subur menumbuhkan banyak rerumputan hijau di sekeliling bungan di taman itu. Untuk itu perlu metode, ilmu dan cara bagaimana membangun taman bunga yang indah yang diibaratkan seperti sebuah kehidupan setelah menikah.

Dan sebelum kita menjalankan sesuatu menghadapi sesuatu untuk lebih baiknya kita mengetahui metode, ilmu ataupun cara yang baik untuk menghasilkan suatu hasil yang baik pula. Tentu kesempatan mencari ilmu didapat saat sedang sendiri sebelum datang jodoh yang dinanti. Merupakan suatu kebaikan dengan memanfaatkan waktu secara benar dan berkualitas.

  • Memperbanyak Menjalin Silaturahmi

Dengan hadirnya orang yang kita cintai disekililing kita adalah sebuah
kebahagiaan tersendiri yang terkadang pertemuan atau moment itu bagi sebagian orang menjadi moment penting dan tidak mudah dilakukan, karena terkadang jika sudah berkutat dengan kesibukan sendiri atau sibuk bekerja moment seperti itu menjadi moment yang sangat penting adanya, baik bersama keluarga tercinta atau bersama dengan sahabat dan teman-teman. Yang biasa disebut Quality time karena tidak mudah menemukan waktu untuk bercengkrama bersama.

Ataupun bagi mereka yang selalu memiliki waktu dan mudah menemukan waktu untuk bertemu dan bercengkaram bersama pastilah hal ini menjadi suatu hal yang biasa. Tapi pada kesimpulannya silaturahmi itu indah, dan berada disekeliling orang-orang yang kita cintai adalah sebuah anugerah terindah karena kebanyakan, berkumpul dengan keluarga, sahabat ataupun teman, menjadi sebuah solusi untuk mengatasi masalah-masalah yang dengan senang hati nimbrung mengusik hati dan pikiran kita. Menghilangkan kegalauan, mempererat ukhuwah diantaranya, melupakan sejenak dari masalah yang menimpa dan yang pasti terhibur dengan sendirinya.

6 thoughts on “Jodoh Itu Tidak Dengan Pacaran

  1. Hahahaha, tajam, tajam. Coba kembangkan tulisan-tulisanmu dari Islam yang bercorak hukum ke Islam yang bercorak kepedulian sosial =)

    • berarti tulisanku kali ini membahas dari islam yang bercorak hukum ke islam yang bercorak kepedulian sosial ya bang ? hmm ya ya thanks bang, try again *better Aamin ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s