Jangan Percaya Janji !


Janji merupakan sebuah hutang yang berarti wajib dibayar, baik janji dari segi ucapan, maupun janji dalam bentuk apapun. Janji sendiri memiliki sebuah arti kepastian yang memang sudah mantap dan pasti dilakukan serta dipenuhi hajatnya. Berbicara tentang janji, manusia tidak pernah tahu semenit bahkan sedetik kemudian apa yang terjadi pada dirinya. Sedang ia mengucap janji yang berarti adalah hutang yang harus ditepati. Dan apabila tidak ditepati, kita pasti bisa membayangkan betapa kecewanya orang yang kita janjikan sesuatu untuknya.

Bisa jadi kita hidup di dunia tidak dalam kepastian, karena segala sesuatunya yang ada di dunia ini adalah bersifat sementara, tidak kekal, dan mudah sekali berubah sesuai dengan keputusan sutradara kehidupan. Tapi ada jalan yang selalu pasti untuk kita menuju sebuah kebenaran dan kepastian dalam hidup. Jalan itu adalah jalan bersama-Nya, dimana setiap langkah kita selalu sertakan ALLAH SWT bersama kita. Dimana jalan itu selalu membuat kita menjadi lebih yakin dan mempercayakan segalanya pada-Nya dalam menapaki kehidupan, mempasrahkan hidup kita pada-Nya. Karena janjinya tak pernah ingkar. Kepastian dalam firman-Nya tak pernah salah untuk kita jadikan pegangan dalam hidup. Dan mudah untuk kita gantungkan segala harapan serta do’a padanya, dan tidak selain DIA. Karena semua makhluk tiada yang tahu kepastian hidupnya, jangan pernah menjanjikan sesuatu yang mana belum pantas apalagi belum bisa dijanjikan.

Terlebih jika seseorang mengucapkan janji, kemudian tidak dapat menepatinya. Betapa beraninya seseorang itu, membuat kepastian yang ia sendiri tak tahu apakah yang diucapkannya adalah sesuatu yang akan terjadi atau malah sebaliknya. Dan betapa kecewanya saat harapan akan janji sudah terajut rapi dalam penantian. Seperti halnya contoh janji pra nikah. Karena sekali lagi buku ini membahas persoalan cinta sebelum ijab dan qobul terucap. Bahwasannya yang terjadi pra nikah, merupakan sesuatu yang semu, baik kebahagiaan, janji, rangkaian kata-kata romantis melalaikan. Semuanya tak berarti apa-apa sebelum ikrar suci terijabkan. Mudah saja untuk berubah, jadi jangan percaya janji yang tak seharusnya terucap sebelum ikrar suci terijabkan, jangan dulu yakin dan percaya seutuhnya, karena segala sesuatunya bisa berubah kapanpun ketika ALLAH SWT sudah berkehendak.

ALLAH SWT lah sebagai pemegang kepastian, kita percayakan segala sesuatunya pada-Nya, tanpa terlukai oleh janji, tanpa sakit dan kecewa karena janji seorang hamba yang sama-sama sepenuhnya menggantungkan do’a dan harapan kepada ALLAH SWT. Dan ketika janji tak bisa ditepati yang sama artinya janji itu adalah hutang, bagaimana dan apa yang harus dilakukan untuk dipertanggung jawabkan. Jangan jadikan lidah yang tak bertulang sebagai alat untuk menyakiti seseorang baik yang disengaja maupun tidak. Kita sebagai manusia berpandai-pandai untuk membimbing diri sendiri melakukan sesuatu yang tidak menyakiti seseorang, karena menyakiti orang lain sama juga dengan menyakiti diri sendiri secara tidak langsung. Begitu pun juga dengan kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain, sama saja melakukan kebaikan untuk diri kita sendiri. Seperti firman ALLAH SWT:

 “Sesungguhnya jika kita berbuat baik kepada orang lain, maka kita berbuat baik kepada diri kita. Dan sesungguhnya jika kita berbuat buruk pada orang lain, maka sama saja dengan menganiaya diri kita.” (QS, AL-Israa:7)

Ketika janji telah terucap tanpa pertanggung jawaban yang nyata, dan kegagalan cinta mengambil ujung dari perjalanan kisah asmara, banyak sekali alasan berikut dengan rentetan kenangan yang telah terucap dan berbagai janji menyeruak dalam ingatan hati yang terluka. Merasa sesak dan begitu pahit saat kenyataan tak sesuai impian dan harapan, saat yang terjadi tak sesuai janji yang tertenun indah merajut kisah sebuah asmara yang belum jelas. Terngiang-ngiang dalam sepinya malam hingga bertemu malam kembali. Bagaimana tidak, hati tempatnya rasa, yang sangat rentan merasakan suka maupun duka. Hati pula yang peka terhadap perasaan bernamakan cinta, namun hanya luka yang entah kapan mengering dan kembali untuh menjadi sebuah hati tanpa janji, tanpa kata-kata romantis sebelum tiba saatnya nanti.

Kadang berfikir menyalahkan dia yang telah berjanji. Tetapi dengan janji yang sempat terucap, cinta merasa diberikan kepastian, hati merasa nyaman dan aman ketika sebuah janji telah diucapkan menjadi sebuah simbol keseriusan dalam mengenal dan menjalin hubungan yang notabennya adalah kepastian itu adalah kepastian semu, dan perasaan nyaman dan aman yang tak sepenuhnya karena, dia yang berjanji belum menjadi miliknya sepenuhnya. Hanyalah sebuah kata-kata untuk memperkuat keyakinan kedua belah pihak yang saling mencintai dan memiliki impian yang sama tapi berjanji saat semuanya belum pasti. Bisa saja janji itu berubah kapan pun dia ingin berubah. Bagaimana tidak ? Bukankah janji sepasang kekasih yang belum diikat oleh ikatan yang halal merupakan janji yang belum pasti ? tapi kenapa berani berjanji ?

Jawabannya adalah, dia yang benar-benar mencintai kita akan bertanggung jawab atas perasaannya, bukan dengan cara berucap dan berjanji atau berkomitmen dan sebagainya. Tapi dia yang mengaku mencintai kita dengan kesungguhannya akan  melakukan yang terbaik dengan membahagiakan kita secara nyata, yaitu dengan meminang atau menikahi. Bukan dengan rangkaian kata-kata romantis, janji pra nikah yang berkedok keseriusan, berkomitmen sana sini untuk mengikat sebuah hati. Dia yang mencintai kita, akan lebih me mperhatikan dan mementingkan kehormatan kita, karena dia akan memilih wanita yang dihormati sebagai teman hidupnya. Menghargaimu dalam bingkai cinta pada hakikatnya. Bukan dengan berada disamping kita, mengantarkan kita sana-sini kemana pun kita pergi dengan berkedok ingin menjaga kita. Bukankah jauh sebelum ada dia hidup kita juga bahagia, selalu terjaga dalam kedamaian cinta ALLAH dan cinta keluarga. Kenapa dengan adanya dia yang bermodal lidah manis, tanpa realisasi yang nyata atas janjinya hidup kita malah bergantung padanya lebih daripada sebelumnya. Bergantung kepada sesama hamba yang membutuhkan pertolongan-Nya. Jangan biarkan hati luluh terhadap sesuatu yang semu, membawa pada bayangan semu kemudian mencabik-cabik hati dengan kesemuan itu.

Cinta, merupakan fitrah yang lumrah dirasakan setiap hamba-Nya. Cinta itu tidak sakit tergantung bagaimana seseorang memperlakukan perasaan yang misterius itu. Jika cinta diperlakukan sebagaimana mestinya, ia tidak akan sakit karna cinta bukan luka. Selami lah cinta dengan berpelampung DIA, jangan menyelami dan mendalami cinta dengan bantuan nafsu dan hasutan hasrat dari setan. Dengan begitu kita akan selamat dari kekecewaan dan terhindarkan dari hasutan setan yang menjerumuskan. Pandai-pandailah mengartikan cinta dan nafsu. Agar hakikat dan makna cinta tetap murni terjaga.

Jika seorang lelaki benar mencintai seorang perempuan, ia tidak akan pernah berjanji sebelum ia berjanji di hadapan ALLAH SWT melalui ijab dan qobul. Karena ijab dan qobul tidak semudah dan seenteng yang dibayangkan, setelah berijab yang artinya berjanji dihadapan ALLAH SWT untuk sepenuhnya mencintai seorang perempuan itu dengan ikatan suci dan telah halal untuk saling mencurahkan rasa cinta dan saling mencintai. Tentu berbeda berjanji dihadapan manusia dan berjanji dihadapan ALLAH SWT yang setelahnya seorang lelaki dan perempuan memiliki tugas masing-masing yang harus dikerjakan dan ditunaikan setelah janji terijabkan sebagai wujud kesungguhan dan niat kepada ALLAH SWT hingga menjadi sebuah keikhlasan dalam cinta beralaskan ibadah.

Tapi kembali lagi, menusia tidak luput dari kesalahan dan ke khilafan, jikalau kita pernah berjanji atau menerima janji yang kemudian janji itu tidak terealisasikan seperti apa yang diharapkan, janganlah bersedih dan membenci atau menyalahkan siapapun. Memang rasa kecewa itu pasti ada, tapi lebih baik kita mengikhlaskan dan menyerahkan segalanya pada-Nya karena proses perjalanan kehidupan setiap hamba sudah diatur rapi oleh Sang Maha Segalanya, dan kegagalan atau tidak sesuainya kenyataan terhadap janji yang sebelumnya pernah terucap, maafkanlah dengan memaafkan hati akan terasa aman dan nyaman dengan mengikhlaskan segalanya yang telah lalu yang berarti kita siap menerima rencananya yang jauh lebih baik yang telah disiapkan untuk kita.

Tetaplah bersyukur meski hati terasa sakit, tetaplah berupaya memperbaiki diri melakukan yang terbaik meski lelah begitu terasa. Karena dengan kelegaan hati dan upaya yang baik dapat menghasilkan sesuatu yang menghadirkan ketenangan dan kebahagiaan lebih dari sebelumnya. Dan bersiap menerima hal baik berikutnya.

Tidak ada yang salah dengan tetap berusaha bangkit dan mengupayakan yang terbaik untuk diri sendiri, karena kesalahan terletak pada jiwa yang terus berlarut dan terpuruk terhadap sebuah masalah yang mendera. Bukan kah setiap ujian dan masalah memiliki nilai hikmah yang berbeda-beda dan yang pasti akan memberikan pelajaran hidup terhadap perjalanan hidup kita. Kita tak pernah tau bagaimana jalan hidup, tapi kita punya usaha dan doa untuk mengharap jalan dan takdir yang baik dan menolak jalan takdir buruk.

Seperti kata pepatah ‘Kegagalan merupakan kesuksesan yang tertunda’ , kegagalan apapun itu, jadi tetaplah berusaha dan berharap kebaikan akan selalu datang pada setiap hamba-Nya, gagal dalam percintaan bukanlah sesuatu yang terus menerus menjadi alasan untuk bersantai dan menikmati kursi keterpurukan. Karena kepergian orang yang kita cintai, karena ALLAH SWT lebih mengetahui yang terbaik untuk kita dari apa yang kita ketahui. Jika ia pergi berarti ALLAH akan menaikkan satu tingkat untuk kita lebih dekat kepada kesuksesan bersama orang yang lebih tepat dan lebih baik untuk kita. Seperti firman ALLAH SWT:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. ALLAH mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. AL-Baqarah:216)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s