♥ Terimakasih Ayah Terimakasih Ibu Terimakasih Kakak ♥


Assalamuallaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…..
Alhamdulillah Wa syukurillah atas berkah rahmat serta karunia masih menyelimuti kehidupan kita sehingga masih bisa berjumpa dalam sebuah media elektronik ini. Yang mungkin sedikit banyak hanya ingin berbagi.

Untuk kali ini saya ingin menceritakan sebuah cerita… yang sumbernya dirahasiakan. Selamat membaca dan menikmati…….🙂

Saat pagi datang memberikan sinarnya menyegarkan embunnya, memperindah fajarnya dia seorang gadis remaja menikmati suasana pagi bersama kakak laki-lakinya. Kala adzan subuh berkumandang ia terbangun beriringan dengan bunyi alarm handphone yang ia setting tepat adzan subuh. Setelah melaksanakan ibadah sholat subuh, dengan segera ia bersiap-siap untuk berangkat sekolah, karena tempat ia sekolah lumayan jauh dari rumah.Tak lupa ia harus menyiapkan hidangan walaupun hanya segelas teh hangat untuk dirinya dan kakaknya. Jika diwaktu pagi tersediamakanan, ia selalu meminta kakaknya untuk bangun pagi dan makan sarapan bersamanya. Dan kadang sepotong roti yang ada di meja makan kala itu, ia sedang lapar dan akan segera berangkat sekolah, tapi dia ingat kakaknya setiap pagi harus ada makanan paling tidak roti dan segelas teh hangat untuk ia minum obat. Jikalau tidak penyakitnya akan kambuh karena telat minum obat.

Sesampainya di sekolah, layaknya remaja biasa ia melakukan aktivitas bersama teman-temannya. Saat bel pulang berbunyi dia begitu malas sekali beranjak dari tempat duduk, padahal yang lain merasa bebas dari cengkraman pelajaran dan guru-guru disetiap harinya dan bergegas untuk pulang. Sedang dia enggan untuk pulang, tapi keadaan memaksa jika sudah waktunya pulang tak ada lagi alasan untuk tinggal. Dia memiliki tanggung jawab dimana setiap pulang sekolah ia harus langsung pulang, padaha teman-teman yang lain sering sekali mengajak ia bermain dan refreshing, namun tak jarang juga ia menolak ajakan mereka.

Sesampainya dirumah ia harus menyiapkan makan siang untuk kakaknya jika kakaknya berada rumah karena biasanya ia berada dirumah nenek mereka. Tidak hanya itu tapi dia juga harus membersihkan rumah, dan menjaga rumah, tak bisa ia bermain keluar lama-lama karena pesan ibunya ia harus menjaga rumah, agar sewaktu-waktu jika ada yang datang ada yang bisa ditemui.

Kala malam tiba ia hanya berdua dengan kakaknya, yang dimana kakaknya selalu tidur lebih awal, masih sore sudah tidur. Sama saja dengan sendiri ia dirumah, ia pahami kondisi kakaknya yang sedang sakit dari kecil hingga kini, yang tak bisa hidup normal seperti yang lain, yang tak bisa menikmati pendidikan seperti orang pada umumnya yang tak bisa pergi dan menikmati berpergian rekreasi kesuatu tempat seperi orang biasanya. Hanya berdiam diri dirumah, bermain disekitarnya dengan sebuah keterbatasan mental yang dimana kadang orang tak menerima ia dimasyarakat. Mereka berdua jarang berbicara dalam serumah, bukan karena mereka tak akur, mereka sangat akur tapi penyakitnya yang kadang kambuh sewaktu-waktu membuat ia lama tak berbicara, lama tak berkata bahkan sama sekali tidak nyambung apabila berinteraksi dengan lawan bicaranya. Ia mempunyai beberapa keterbatasan membuat adiknya tak pernah mampu ketika berbicara menatap matanya, namun selalu berharap senyumannya.

Karna setiap ia melihat mata kakaknya ia merasa ada sebuah ketidak adilan dalam sebuah kehidupan, dia tak ingin mengeluarkan air matanya didepan kakaknya, karena dia tak ingin membuat kakaknya bertanya-tanya kenapa dia menangis, karena dia tak akan mampu menjawab.

Mereka jalani hidup mereka berdua, seperti sudah tak lagi punya siapa-siapa. “Jangan lagi tanyakan tentang Ayah !!,” sebuah pertanyaan yang memiliki harga mati untuk dijawab. Mereka hidup sendiri dimulai saat Ibunya pindah dan ikut tinggal bersama Ayah tiri dan anaknya, Dia adalah adalah adik mereka.

Itu yang sampai kini menjadi pertanyaan bagi mereka para tetangga, “Kenapa ngga ikut ibumu saja nak ??.”
Remaja itu tak lagi bisa menjawab, hanya senyuman yang tergenang dibibirnya. Keluarga besar merekapun bertanya-tanya juga kenapa dia tak mengajak anaknya untuk tinggal bersama dengan Ibunya ?? dan Ibunyapun menjawab, bahwa Kakaknya tidak betah dirumah yang ditinggali oleh Ibunya dan mereka, Tapi keluarga besar mereka sama sekali tak percaya saat ia menanyakan langsung pada bahwa dia sangat betah dan ingin tinggal bersama Ibunya dibanding dengan neneknya sebelum itu.

Dan ketika ibunya berkunjung ke rumah yang ditinggali oleh dua bersaudara tersebut, dalam kesempatan baik remaja itu bertanya. “Ibu kenapa kakak ngga ikut Ibu saja, biar lebih terurus ??, Apa benar kakak ngga betah tinggal disana ??.”

Ibunya pun menjawab “Sebenernya memang kakakmu betah disana, tapi mereka yang ngga betah dan kurang terima jika kakakmu tinggal disana !!, apalagi adikmu, tau sendirikan dia tak menyukai kakakmu itu, dan Ayah ?? namanya juga ayah tiri dia juga sama ngga setuju dan memutuskan agar kakakmu tinggal dirumah ini saja, karena ngga mungkin dia tinggal sendiri jadi Ibu meminta kamu untuk menemaninya tinggal disini.”

“Yah kalau begitu Ibu saja yang ikut tinggal bersama kita.”
Ibunya terdiam sejenak lalu menjawab,”Ibu ngga bisa jauh dari adikmu !!.”

Tiba-tiba perbincangan mereka berakhir, yang ada dalam benaknya hanyalah, “Ibu memang sayang kepada kita, tapi kenapa Ibu memilih 1 dan meninggalkan 2 ??.”

Hari-hari mereka jalani hanya dengan berdua serumah dengan suasana sepi seperti tak berpenghuni. Kala itu dia dalam perjalanan pulang dari pesantren ia mengaji, tiba-tiba dalam perjalanan pulang, mati lampu. Dia sangat panik, tapi dia takut. Dia panik karena kakaknya berada dirumah sendirian, sedang dia takut karena memang dia takut dengan kegelapan. Tak ada cara lain, dia harus pulang dari sisip depan tampak rumahnya gelap sekali diantara rumah-rumah yang lain yang masih ada sedikit penerangan lilin, tapi dirumah mereka tidak. Sampai depan rumah kakinya bergemetar seperti tak yakin membuka pintu gerbang rumah yang sudah sangat gelap. Tapi ia diingatkan lagi dengan kakaknya yang sednirian berada didalam. Ia nekat masuk semakin gelap dan semakin gelap, lalu ia menuju kamarnya dan mengambil senter untuk meneranginya, kemudian ia cepat-cepat menuju kamar kakaknya untuk memeriksa keadaan kakaknya. Dan ternyata saat itu kakaknya sedang terlelap tidur.

Kemudian ia kembali kekamarnya dan segera beristirahat, saat berbaring diranjangnya ia begitu takut sekali dengan kegelapan, dan dia merasa sangat benar-benar sendiri. Dan tiba-tiba ia menangis yang tak bersuara karena takut kakaknya terbangun dan mendengarnya, hanya linangan air yang megalir dalam sebuah kegelapan.

“Apakah Ibu khawatir ketika aku dalam keadaan seperti ini ?.”
“Apakah Ibu merasa bahwa kita sangat membutuhkannya ?.”
“Apakah Ibu tau, rasanya hatiku saat ibu berkata, bahwa suaminya dan adikku tak bisa menerima kehadiran kakakku dirumahnya ?.”
“Apakah keputusan Ibu benar memilih satu dan mengorbankan dua ?.”

Ibu, inilah hati yang tak sampai, inilah kata didalam diam, inilah pertanyaan yang bisu.

“Ayah meninggalkan kita, aku berharap engkau kan selalu kuat menemani dan memberi kasih dan sayangmu dalam keadaan apapun, dengan kau ada disamping kita memelukku dalam setiap kegelapan… berbaring menemani aku dan kakak ketika sakit, dan tersenyum bahagia seperti dulu kala laki-laki itu belum menjadi suamimu seperti sekarang ini.”

Remaja itu tak pernah bercerita akan butuhnya dia kepada Ibunya, seolah-olah dia memang bisa mandiri mengurus dirinya dan kakaknya, karena dia tak ingin membebani pikiran Ibunya yang banyak sudah yang harus dipikir oleh ibunya. Tak heran jika dia terlihat kurusan dan sering sakit, tapi dia senang dia bahagia ketika dia sakit, karena saat ia sedang sakitlah Ibunya datang dan kadang memperhatikannya, itu sebabnya dia senang sudah terbiasa dan senang dengan rasa sakit agar Ibunya datang dan memberi perhatian padanya, tapi tetap saja tidak bisa bermanja-manjaan.

Dia tidak suka dengan suasana yang sepi karena disaat itulah dia mengingat dirinya bukanlah apa-apa, mengingat apa yang terjadi pada dirinya, jalan yang telah dipilihkan oleh tuhan untuknya. Jika suatu saat remaja itu bertemu Ayahnya, dia akan berkata sebuah kalimat padanya,

“Engkau begitu hebat, memiliki hati yang keras yang tak tergoyahkan hingga rasa cinta dan kasihmu tak lagi bisa meluluhkan hatimu.”

Mungkin dia bisa menerima kenyataan pada dirinya, tapi dia tak kuasa menerima semua kenyataan pada kakaknya, “Terlalu berat tuhan kau membiarkan kakakku terus seperti ini, jika beban mampu diletakkan, aku akan bantu meletakkannya, jika beban bisa digantikan, aku mau menggantikannya.”

“Aku percaya padamu Ya ALLAH Ya Rabb, tiada kebahagiaan  yang datang selain dariMu, dan tiada kesusahan yang datang pula selain dariMu.”

Pagi, siang, malam, panas, hujan, gelap, terang, mereka yakin bisa lalui bersama.

Dan untuk kakak pertamanya jika tuhan mempu memberi kekuatan untuk dia berkata padanya, dia ingin berkata,”Kau tak jauh beda dengan Ayah, wahai kakakku yang tampan nan keras hatinya. Semoga kau bahagia dengan jalan hidupmu sendiri, kelak jika kau memperoleh kesusahan datanglah, itu menjadi tak apa jika kau ingin berbagi. Karena ketauhilah kita berdua mahir dalam hal & BABnya susah. Tapi jika kau peroleh kebahagiaan, pergilah dan bahagialah, karena itulah yang kau cari dan jalani sendiri sekarang dan nanti.”

Bukan harta, bukan benda, bukan materi, bukan uang, bukan pula kata. Tapi sederhana saja kita rindu kasih sayang kalian.

Tapi Ibu… aku bukan apa-apa tanpamu, dirimu satu yang kubutuh hatimu, hidupmu, keberadaanmu, do’amu dan keridhoanmu yang kau berikan dalam hidupku…. Dan ketauhilah aku ada karena dirimu… setiap anak di dunia ini pastilah memiliki mutiara dunia sepertimu. Berikan kasih dan sayangmu setulusanya kepadaku anakmu. Aku merindukanmu, rindu masa kecilku. Dengarlah Ibu kau adalah ladang sebagai perncari pahala menuju pintu Syurga, berikan kesempatan kepada anak-anakmu untuk meraih segenap ridho dan jalan menuju syrgaNYA atas izinmu dan atas IzinNYA.
Ayah…. semoga kau selalu dalam lindunganNYA dan diberikan hidayah atas sebuah hati yang masih memiliki nurani. AKu sangat ingin menjumpaimu memelukmu dan berkata masih ada kesempatan ayah “Masih ada kesempatan”.🙂

Teruntuk Ayah, Ibu, dan Kakak pertamaku Aku merindukan kalian. ♥

Sekian dulu sahabat bloger, hanyalah sebuah cerita yang mengandung makna bagi yang bersangkutan. Untuk kita sendiri mari bersyukur atas apa yang ada dalam hidup ini.. saling mengasihi adalah sebuah hal yang takkan ternilai dengan apapun, memang tak berwujud, tak terlihat, tak tersentuh raga tapi sangat menyentuh jiwa.

Sedikit kasih sayang, menjadi arti pada sebuah kehidupan, semakin banyak kasih sayang menjadi sebuah kekuatan cinta dalam kehidupan.

Itu sebabnya ALLAH SWT tidak menyukai dan melarang kita dalam meningkatkan kecintaan kita pada harta dan benda.

Semoga bermanfaat, Wassalamuaalaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s