Aku Berjanji Dia Harus Lebih Baik Dari Aku


Mengais sampah adalah kerjaanku, menemukan barang bekas yang masih layak adalah semangatku, bekerja keras adalah kwajibanku, makan adalah hobiku, untuk itulah aku harus bekerja demi memenuhi hobiku, aaaah tidak juga. Aku yang biasa akrab dipanggil Ntong memiliki kehidupan yah cukup asik dan berwarna, bagaimana tidak ?? kedua orangtuaku dengan hasil pernikahannya yang telah dilakoni dengan penuh cinta menghasilkan 6 orang anak, 2 perempuan dan 4 laki-laki, dan kebetulan aku adalah anak yang pertama.

Seandenya aku masih melanjutkan sekolah mungkin sekarang aku sudah duduk dibangku SMU kelas 3 lebih tepatnya, tapi karena roda kehidupan berputar begitu cepat tanpa ku bisa menghentikannya dan akhirnya jatuh pada giliran kluargaku mendapat posisi yang paling bawah hingga semua berubah menjadi sebuah kenyataan yang mau tak mau harus aku trima denan tangan terbuka…

Bukan hidup jika grafiknya terus berada diatas, dan bukan pula hidup jika grafiknya terus berada di bawah paling ngga berubah lah, iya harus berubah !! . (itulah kata-kata yang sangat menguatkan pundakku ketika membawa tumpukan sampah demi sampah yang biasa menemaniku kemana-mana). Ibuku hanyalah seorang Ibu rumah tangga, yang setia mengurus anak-anaknya dan Bapakku adalah seorang pekerja serabutan yang juga tak tentu, kadang juga beliau ikut bersamaku mengais sampah bila hari itu beliau tak mendapatkan pekerjaan. Kadang juga kalau ada waktu kosong setelah pulang mencari sampah aku biasa memainkan sahabat setiaku kemana arah kaki melangkah, dan ntah berapa lirik lagu yang aku mainkan bersama sahabatku. Yah sekalipun aku merasa lelah, namun dengan berirama dari tempat 1 ketempat lain akan membuatku merasa kehidupan begitu segar melihat orang-orang menikmati suara merduku bersama alunan nada yang menemaniku.

Aku berjanji aku tak akan menyesal akan kehidupan yang tuhan berikan, karena aku tau tuhan akan menambah nikmat pada setiap hamba yang mampu bersyukur atas segala nikmat yang diperoleh..
tapi jujur kadang aku suka mengeluh karena yah tau sendirikan, beras pada naik, BBM apa lagi, dan yang membuatku risau sampah-sampah banyak yang tak berkualitas sehingga nilai jualnya tetap tidak imbang kan itu, sebenarnya untuk aku sendiri jalan kaki kemanapun tak jadi masalah tapi bagaimana dengan adik-adikku mereka bertiga harus tetap sekolah, sedang jaraknya lumayan jauh dari rumah belum juga uang jajannya, tapi Alhamdulillah ada dana BOS jadi yah orangtuaku sedikit terbantu untuk biaya bulanan sekolah, tapi untuk ongkos ?? siapa yang mau bantu…. !?!?

Mungkin memang tidak ada yang mau bantu, tapi Allah lah yang akan bantu. Randi adikku yang ke dua dia duduk dibangku SMP kelas 1, sebenarnya dia ingin membantu aku setiap harinya untuk mencari sampah sebagai tambahan uang untuk biaya sekolahnya dan yang lain, tapi aku melarangnya karna aku ingin dia hanya focus belajar dan meraih cita-citanya, sempat saat itu kita berdua mencari ikan di sungai karna memang seharian ngga dapet sampah sama sekali akhirnya untuk lauk makan kita mencoba menggunakan senjata keluarga yaitu keranjang nasi untuk mencari udang dan ikan di sungai belakang rumah.

Kala itu kita berdua sedang beristirahat dan duduk di sebuah batu tepi sungai, kita berdua saling bertanya dan mengobrol tentang sebuah cita-cita.
Randi :”Mas.. mas, mbesok gedhe samean pengen dadi koyo opo ??”
Ntong :”Aku ta ?? lha aku iki prasamu sek cilik ta ?? aku iki wis gedhe loh… yo opo seh arek iki.” (sambil tertawa bercanda).
Randi :”Lah maksudku samean loh cita-citane opo ??.”
Ntong :”Ohh, aku ?? pingin eroh cita-citaku ??.”
Randi :”Opo ??.”
Ntong :”Cita-citaku yoh kepingin ndeleng adik-adikku sukses, ngrubah nasib yoh Ran…. !!?.”
Randi :”Gak ono seng liyo??.”
Ntong :”Gak ono, yo wis iku cita-citaku, kiro-kiro Randi iso gak ??.”
Randi :”Bissmillah mas, insyaAllah iso yen seng kuoso wes ngendikan QunfayaQun !!.”
Ntong :”Amiiin amiiin iso ae yoh.”

Setelah sejenak beristirahat mereka berdua langsung pulang karna sudah cukup lelah dan hanya mendapatkan 7 udang saja, yah walaupun sebernya sama sekali kurang untuk dijadikan lauk makan malam nanti. Dan saat malam tiba mereka saling berkumpul untuk makam malam bersama dan membaki 7 udang sungai tadi sebagai lauk, akhirnya Bapak dan Ibu yang mengalah hanya makan dengan nasi agar semua anaknya terbagi rata sama-sama makan dengan lauk yah walaupun sangat miris sebenarnya.

Setelah makan malam selesai, Nisa adik kedua ku, tiba-tiba duduk disebelah Ibuku dannlangsung berbicara bahwa besok disuruh membeli buku LKS yang memang wajib dimiliki oleh setiap murid diskolahnya, tapi lagi-lagi itu yang menjadi hambatan yaitu uang. Hari itu bapak dan aku sama sekali tak mendapatkan sampah sama sekali dan bapak kebetulan tak ada kerjaan waktu itu, tapi Nisa menangis karna Ibu mengatakan bahwa beliau lagi ngga ada uang, dengan tiba-tiba Nisa langsung masuk kamar dengan tangisannya. Dan Ibu juga tak bisa melakukan apa-apa karena barang-barang dan perkakas rumah sudah banyak yang terjual untuk biaya Randi yang mungkin lebih banyak ketimbang Nisa belum lagi Jaka dan Lisa.

Dan setelah makan malam selesai dan masalah itu, aku langsung meminta ijin Bapak Ibu untuk pergi ke rumah Ipung teman kampungku dan mereka mengijinkan, padahal sebenarnya aku ke rumah Ipung untuk mengambil Sahabatku yang siang tadi aku titipkan di rumah Ipung yang rumahnya dekat sekali dengan sungai saat tadi mencari udang bersama Randi. Do’aku malam itu adalah,” Allah berikan rezeki untuk hamba dan keluarga hamba agar dapat melaksanakan kwajibanmu.”

Setelah dari rumah Ipung, tak membuang waktu lagi aku langsung berjalan menuju jalan raya yang lumayan jauh dari rumah, untuk segera mengejar bus malam dan semoga saja ada rezeki disitu.
Bus Mandala 5 lah yang malam itu adalah kali pertama aku bernyanyi untuk setetes airmata adikku Nisa.
Penumpang dalam bus kala itu sedang banyak yang tidur alhasil aku hanya mendapatkan 10,000 saja tapi Alhamdulillah daripada tidak sama sekali, lalu aku turun di sebuah terminal terdekat karna aku harus pulang sebelum pagi. Tapi uang yang aku dapatkan dari bernyanyi semalam masig kurang paling tidak aku harus mendapatkan uang 10.000 lagi karena yang kudengar tadi LKS Nisa seharga 20.000.

Bingung sekali malam itu apa yang dapat aku lakukan sedang ini sudah jam 12.00 malam, untuk bernyanyipun , sudah ngga ada lagi rumah orang yang masih terbuka pintunya, mau bernyanyi di Bus lagi sudah cukup membuatku pusing dengan sopir Bus yang sering memeberhentikan Busnya secara mendadak. Jika saja ada sesuatu yang bisa dijual dari diriku pastinya sudah dari dulu tapi apa boleh buat.

Kala itu hamper jam setengah 1 pagi, aku berjalan lurus tanpa belok siapa tau ada sesuatu yang mungkin bisa membantuku, dan Alhamdulillah Allah memang maha pengasih maha pemberi dan maha penolong juga maha segalanya. Aku melihat seorang penjual pinggir jalan yang sedang memebereskan dagangannya segeralah aku menghampirinya dan yang aku liat dia adalah seorang penjual pakaian bekas. Dan tanpa piker panjang aku langsung melepas jaketku, jaket satu-satunya yang aku punya dan kebetulan jarang aku pakai karna memang aku hanya punya 1. Dan Alhamdulillah sekali penjual itu mau membeli jaketku dengan harga 15.000 karna memang jaketnya jarang aku pakai dan kondisinya juga masih cukup bagus.. saat itu aku tak tau darimana pikiran untuk menjual jaket itu tapi yah itu ngga penting, yang penting aku sudah mendapatkan uang dan aku akan segera pulang aga keesokan paginya Nisa tak menangis lagi masalah LKS yang ingin dibelinya.

Aku pun bergegas pulang, walaupun saat itu aku sedang tidak, didaerah mana ini, dan setelah bertanya ternyata aku berada di tidak jauh dari daerahku, yah maklum lah sejak kecil itu-itu saja lingkunganku mana tau daerah luar, tapi Alhamdulillah dengan berjalan kaki selama 3 jam akhirnya sampe rumah sekitar jam 4 lebih bertepatan adzan subuh sekalian langsung saja kemasjid untuk sholat sebentar dan menyampaikan rasa terimakasihku kepada sang maha pemurah yang telah membantu persoalan yang sulit dalam keluargaku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s