Jalan Hidup Akan Indah Jika Kita Mampu Bersyukur



Saat pagi tiba dan saat matahari mulai menampakkan sinarnya di muka bumi dan di saat itulah kegiatan dan aktivitas manusia dan semuanya telah dimulai !!. Dan pada saat itu pula kegiatan Tia yang di lakukan di setiap hari telah ia lakukan, Tia biasa bangun pagi sekitar jam 4 kadang paling lambat jam setengah 5 pagi..
Tia bangun pagi karna dia harus mengerjakan tugas rumah seperti membantu ibunya untuk menyelesaikan tugas rumah hingga membantu menyiapkan sarapan di pagi hari, dan setelah itu ia harus berangkat sekolah seperti para remaja pada umumnya.

Dan kebetulan Tia masih duduk di bangku SMK, lebih tepatnya lagi dia duduk di kelas 2 saat ini, di SMK dia mengambil jurusan Broadcast yang mungkin masih jarang ada di setiap sekolah.. Tia termasuk anak yang berkarakter ceria, humoris, kadang seketika berubah menjadi nangis !!
yaaah mungkin dia begitu menggemari seni acting sehingga dia mempunyai berbagai macam gaya dalam situasi apapun!!..

Tia adalah gadis kecil yang tumbuh tanpa seorang ayah, kedua orangtuanya pisah saat iya masih dalam pertumbuhan dari bayi menuju balita. Dan sampai sekarang ia masih belum pernah bertemu sang ayah, tapi dia berkata dalam hatinya “tanpa ayah semua akan baik-baik saja, dan tanpa ayah hidup kami akan tetap berjalan !!”. itu kata-kata yang sering Tia ucapkan semata-mata untuk menghibur dirinya.

Tapi kadang disuatu kejadian dia pernah merasa sedih dan merasa paling berbeda saat bersama teman sepermainannya, bagaimana tidak ?? sedangkan setiap anak juga butuh sosok ayah disampingnya sekalipun sudah ada seorang Ibu yang mampu mencukupi segalanya.

Disuatu ketika saat Tia berumur sekitar 6th, dia tumbuh menjadi anak yang tangguh, tomboy dan tak mudah mengalah apalagi menangis, mungkin itu dia lakukan karna dia tak ingin terlihat lemah saat dia tak bisa seperti teman-temannya. Dan pada saat itu dia bermain sepeda sendirian, dan tiba-tiba seorang teman menghampirinya, dia bernama Ayaz!!.

Ayaz adalah teman main Tia tapi hubungannya tak begitu baik karna mereka memiliki sifat yang bertolak belakang dan satu sama lain tidak sama sekali menyukai. Dan Tia yang pada saat itu kesehariannya hanya bermain dengan anak laki-laki dan tinggal bersama bibinya karna ibunya harus mencari uang untuk menghidupi ke tiga anaknya, Tia dan dua kakak laki-lakinya.

Namun dia merasa senang tinggal dengan bibinya karna dia merasa memiliki keluarga yang lengkap. Ada paman yang dia anggap sebagai ayah, dan bibi sebagai pengganti ibunya ketika ia tak lagi bersama ibunya, Tia merasa tanpa ayah kandung dia juga masih memiliki seseorang yang mampu mengasihinya hingga ia merasa tak kekurangan dalam memperoleh kasih sayang.

Pada saat itu Tia bermain sendiri dengan sepeda kecilnya, karna bersepeda adalah hobinya, namun tiba-tiba temannya yang bernama Ayaz menghampirinya. Mereka berdua berbincang-bincang layaknya seorang bocah. Tapi tiba-tiba Tia dan Ayaz bertengkar entah masalahnya apa yang jelas Ayaz mengeluarkan kata-kata yang dapat menyinggung Tia sehingga Tia membalas kata-kata menyakitkan itu.
1

Ayaz : “ Hahaha kasian yaaah kamu ga punya ayah, kasian deh!!.”

Ristia :” Hmm ngga papa sekalipun aku ngga punya ayah, kayak yang lain dan kayak kamu juga yang mungkin bisa beruntung memiliki keluarga yang utuh dan lengkap, tapi sayangnya aku ga kaya kamu yang anaknya orang ngga punya tapi sombongnya minta ampun, sok berkelas!!.”

Yaaah.. itu adalah kata-kata Ayaz yang sangat menyinggung Tia yang tak pernah bertemu dan mendapat kasih sayang seorang ayah, dia berkata buruk kepada Ayaz karna dia merasa hatinya tersakiti dan ia masih memiliki harga diri yang ngga boleh sedikitpun orang seenaknya mempermainkannya. Dia memang gadis kecil yang pengetahuannya terbatas namun dia memiliki prinsip bahwa dirinya akan selalu bangun dan mengusap air mata yang jatuh karena ejekan setiap temannya.

Saat Tia mulai menginjak remaja, saat itu dia berumur 12th dan duduk di bangku kelas 6 SD. Dia masih memepertahanakan kepribadiannya yang tomboy sekalipun rambutnya udah mulai panjang, tapi dia selalu saja mengikat rambutnya seolah-olah ngga ingin terganggu dengan rambut panjangnya. Sebenarnya bukan Tia yang menginginkan untuk memelihara rambut panjang, tapi orang tua dan sodara-sodaranya melarang Tia untuk berpenampilan tomboy, seperti anak laki-laki, akhirnya dari kelas 4, dia tak lagi berambut pendek.

Disiang hari tepatnya hari kamis 2007, saat itu Tia dan teman-temannya mengikuti pelajaran IPA yang diajarkan oleh P.Baha saat itu. P.Baha adalah guru yang baik dan untuk mecuri hatinya dalam pemberian nilai yang baik sangatlah mudah, apalagi murid itu adalah murid kesayangan P.Baha dia sangat mudah dan baik dalam memberikan nilai, P.Baha juga terkenal dengan guru paling baik yang tidak terlalu membebani muridnya dengan tugas praktek waktu itu.

Dan pada saat itu, Tia dan teman-temannya akan menghadapi Ujian Nasional, dan para murid diminta P.Baha yang kebetulan jadi wali kelas di kelas Tia. P.Baha menyuruh muridnya untuk mengumpulkan data lengkap seperti yang tertera dalam Akta Kelahiran. Mungkin semuanya mengira bahwa mereka memiliki Akta kelahiran, tapi Tia ngga punya sesuatu yang penting itu, yang Tia punya adalah surat keterangan lahir.

Akhirnya haripun tiba dimana pengumpulan Akta yang harus terkumpul siang itu, namun hanya Tia yang masih belum mengumpulkan surat penting itu. Dan akhirnya P.Baha pun memanggil Tia ke depan kelas!!.

P.Baha :” Anak-anak hari ini adalah batas akhir pengumpulan Akta Kelahiran guna untuk memperjelas biodata dan identitas kalian untuk STTB (Surat Tanda Tamat Belajar) untuk tingkat SD, adakah yang belum juga mengumpulkan ??.” (Dengan tegas sambil meneliti tumpukan Akta muridnya).

Murid kelas 6 :” Sudaaaaaah pak…… !!.” (Berteriak riang, seakan-akan tak ada yang kurang).

Namun saat teman-temannya menjawab pertanyaan dari P. Baha, Tia hanya diam dan menunduk seakan-akan bingung apa yang dia harus katakan nantinya karna yang Tia bawa dalam tasnya bukanlah Akta yang diminta P.Baha , namun Surat Keterangan Lahir yang dia punya. Dan tiba-tiba P.Baha kembali bersuara!!.

P.Baha :”Sudah apanya ??? kurang 1 yang masih belum mengumpulkan, dan Bapak akan memanggilnya!!.”

Dan ketika itu pula Tia merasa yakin bahwa namanya lah yang akan disebut.
P.Baha :” Iya, Luphita Ristia .. ayo maju !!.”

Dengan sedikit menahan rasa malu dari Tia berdiri dari tempat duduknya hingga iya berjalan menuju depan kelas, teman-temannya melihatnya seperti ada yang salah darinya. Setelah iya sampai di hadapan P.Baha dan teman-temannya Tia hanya melihat lantai yang terpenuhi debu dan dia melukisnya dengan sepatu untuk sedikit menghilangkan rasa malu dan tidak melihat wajah dari teman-temannya.

P.Baha :”Ristia, kenapa kamu belum mengumpulkan Akta Kelahiran ???, data itu sangat penting dan berguna untuk kamu sendiri nak!!.” (Cetus Pak Guru yang tidak suka dengan sesuatu yang terlambat).

Ristia :”Iya pak maaf, tapi saya tidak bisa mengumpulkan Akta kelahiran itu pak !!.” (jawab Tia)

P.Baha :” Kenapa tidak bisa Aktanya hilang atau masih disimpan dengan Orangtuamu??.” (Tegas P.Baha)

Ristia :”Bukan Pak, (menghela nafas, seakan-akan berat yang Dia katakan), sebenernya saya tidak mempunyai Akta Kelahiran pak!!.”

P.Baha :” Loh kok bisa tidak punya ? apa kamu lahirnya dulu di dukun ?? dan Yang lahir di dukun saja punya Akta Kelahiran !!.” (tungkasnya hingga membuat teman-teman sekelas Tia tertawa dengan kata-kata yang dilontarkan Pak Guru Berkumis itu kepada Tia).

Ristia : (sambil menahan rasa malu, yang seakan-akan membuat dirinya kecil diantara teman-temannya, sehingga membuatnya berkaca-kaca dan berusaha menahan air mata yang sudah hampir jatuh untuk tidak jatuh karna Tia adalah sosok anak yang tak mau kelihatan lemah didepan tema-teman dan semua orang). “Ngga pak, Ibu saya juga melahirkan saya di rumah sakit seperti ibu mereka juga pak, tapi Saya memang ngga punya Akta yang saya punya Surat Kelahiran dari rumah sakit tersebut, sebentar ya pak !!.” (Dan bergegas mengambil surat itu di dalam sela-sela bukunya karna dia ingin membuktikan bahwa dia sama dengan teman-temannya).

P.Baha :” Ohh ini iya .. tapi bukan ini yang di butuhkan untuk membuat STTB, karna ini hanya surat keterangan lahir, semua orang juga tau kalau kamu sudah lahir hingga sebesar ini, tanpa melihat surat inipun, saya dan semua yang ada disini pasti ngerti.” (kembali P.Baha mengeluarkan kata-kata yang pedas hingga membuat Teman-temannya tertawa melihat Tia).

Ristia :”Yaaah terus saya harus bagaimana pak ??.” (Karna dia sudah merasa tak lagi memiliki jawaban).

P.Baha :”Iya, kamu harus bilang kepada orangtua kamu bahwa harus mengurus Akta Kelahiran untuk kamu yaa !! bisa kan?.”

Ristia :” Baik pak saya akan mengatakan itu kepada orangtua saya, permisi pak !!.” (dan berusaha meyakinkan P.Baha untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang membuat Tia malu di depan teman-temannya).

Malam Hari di Rumah…….

Saat itu Tia bingung dia ingin bicara dengan Ibunya, tapi sepertinya Ibunya masih sibuk karna menghitung uang hasil jualannya hari ini, tapi ngga ada jalan lain Tia ngga mau dipermalukan dan di tertawakan di depan teman-temannya. Dan Akhirnya Tia mencoba untuk memberanikan diri.

Ristia :”Bu, Tia tadi dipanggil sama pak guru, bu… !.”

Ibu :”Iya kenapa, kamu nakal ya ? ? apa bikin ulah ??.” (Cetus Ibunya Tia).

Ristia :”Ngga Bu, Ibu inget ngga yang tempo hari Tia minta Akta Kelahiran buat STTB di sekolah itu ??.” (Mulai santai).

Ibu :”Iya ibu inget , kenapa ? kan udah ibu kasi Surat Keterangan lahir yang tempo hari itu !!.” (Jelas Ibu).

Ristia :”Iya tapi P.Baha bilang bukan itu yang diminta… yang pak guru minta Akta kelahiran bu!!.” (Tia mencoba pelan-pelan menjelaskan).

Ibu : (menghela nafas).”hmm, Tia . Tia ngga punya Akta Kelahiran.. dan ibu juga ga bisa ngurusin Akta Kelahirannya Tia!!.”

Ristia :”Kenapa ngga bisa?? kata P.Baha tadi, bisa kok!!.” (Terang Tia yang Ingin sekali Ibunya mengatakan bahwa itu bisa).

Ibu :”Iya, tapi duduk sini deh.. Kita ngga bisa buat Akta karna Ayah Tia dulu meceraikan Ibu dengan memberikan surat cerai palsu, jadi itulah sebabnya ibu ngga bisa mengajukan Tia untuk mempunyai Akta seperti teman-teman Tia, dan P.Baha pasti ngerti kok.. Apa ibu yang kesekolah dan bilang tentang ini ke P.Baha walikelas Tia ??.”

Sebenernya Ristia mau ibunya yang mengatakan hal ini pada wali kelasnya itu, namun Ristia merasa Ibunya sibuk bekerja, dan dia ngga mau merepotkan ibunya yang sedang bekerja untuk menghidupi 3 orang anaknya, dan akhirnya Ristia memutuskan untuk dirinya saja yang mengatakan hal ini kepada wali kelasnya itu.

Ristia :”ohh ngga usah deh bu, biar Tia aja yang bilang ke P.Baha !!.” (seolah-olah terasa ringan Tia mengatakan hal itu, karna dia tak ingin merepotkan Ibunya).

Hubungan Tia dengan teman-temannya, cukup baik bahkan teman-temannya menganggap Tia bergonta-ganti teman. Seakan-akan dia tak memiliki sosok teman yang selalu berdampingan dengannya. Kenapa Tia melakukan itu, karna dia ngga suka memilih bersama siapa dia ingin bermain setiap hari, tapi dia ingin semua temannya mau berbagi dan bermain bersamanya tidak hanya satu bahkan dua teman saja. Padahal saat itu teman Tia semuanya terbagi dalam beberapa kelompok atau bisa disebut membentuk Gank masing-masing.

Tia sempat tergabung dalam salah satu Gank di kelasnya, namun dia merasa dia ngga nyaman karna kalo seseorang itu tergabung dalam suatu Gank dia ga akan bebas bermain dengan siapa saja. Jadi tiap hari Tia harus selalu bermain berbagi dan bersama dengan Gank yang diikutinya. Lama-kelamaan Tia ngga mau dan dia memutuskan untuk keluar dari Gank tersebut karna dia merasa tak nyaman.

Dengan Adanya setiap Gank diantara teman-temannya, Tia bingung untuk bermain dan bergabung juga bercerita dengan siapa ? akhirnya dia memutuskan untuk bermain dengan teman cowonya, dan disitulah Tia menemukan sesuatu dan hal yang tak lagi membosankan, sampai – sampai ia berkata !!

Ristia :”Ternyata asik juga maen sama temen cowo, mereka ngga mengenal perbedaan, tapi yang mereka pentingkan adalah kenyamanan dan kebersamaan bersama teman, dan aku kira temen cowo disekolah dan temen cowo di rumah sangat berbeda karba lebih nyaman lingkungan di rumah disbanding di sekolah tapi ternyata itu salah !!.”

Sampai akhirnya setiap hari bahkan tingkah, mainan yang Tia lakukan adalah yang sebenarnya itu buat cowo semua. Dan dia mulai berfikir yang di butuhkan dalam hidup bukanlah kebesaran nama, status bahkan suatu kelebihan yang di miliki, tapi yang dibutuhkan adalah Indahnya kebersamaan dan tak berpengaruhnya perbedaan juga kenyamanan dalam setiap keadaan.

Ngga terasa minggu depan Tia yang memiliki nama lengkap Ristia Prameswari ini akan menghadapi Ujian Akhir Nasional maka dari itu dia lebih sering dia di rumah dan mulai mengulas pelajaran-pelajaran yang lalu juga mulai mengurangi kegiatan bermainnya. Sampai sangking sibuknya dan takut dirinya tidak lulus, Tiapun sampai lupa makan dan melalaikan tugas rumahnya.

Saat itu ibunya pulang dari kerja, dan seperti biasa menanyakan apa anak-anaknya sudah makan ??
Ibu :”Assalamuallaykum………… anak-anak ibu pada kemana kok sepi ??.” (Sambil menengok tiap sudut ruangan)

Ristia :”Waalaykumsalam bu… ini Tia lagi dikamar.”(sambil membuka lembar demi lembar buku).

Ibu :”Loh kakak kamu kemana semua, kok sendirian dirumah ?? sudah makan ??.”

Ristia :”Tadi ka Irfan pamit katanya mau ke rumah nenek, terus ka Alfian tadi ga bilang mau kemana…. ?? hehe belum bu, lupaa .” (Tegasnya)

Ibu :”Loh kok bisa lupa jadi dari tadi belajar terus di kamar ?? .” (Tanya Ibu Tia yang keheranan melihat anaknya jadi berubah seketika).

Ristia :”hehe iya bu, abis minggu depan Tia udah UNAS, aku takut gimana entar kalo ga bisa, terus ga lulus.”

Ibu :”Iya ibu tau !! tapi ngga seperti itu, ngga sampe lupa makan san sepertinya lantai kotor dan meja makan juga belom beres ngga seperti biasanya, tapi ibu ngerti kok!!.”

Ristia :”Iya bu aku minta maaf yah, aku berlebihan tapi akan segera aku bereskan!!.” (seperti biasa mencoba merendahkan diri dengan senyumannya).

Ibu :”Tidak usah biar ibu saja, kamu makan sana, lagian juga ibu tadi ga terlalu cape dan banyak kerjaan !!.” (Tegas sang ibu dengan tersenyum balik pada Tia).

Kegiatan itu yang seperti itu yang sehari-hari Tia lakukan untuk menempuh UNAS dan tidak mengecewakan Ibunya. Minggu itupun tiba Tia merasa gugup namun dia yakin bisa dengan apa yang dia lakukan dan usahakan untuk menempuh UNAS, sampe akhirnya iya pamit pada ibunya.

Ristia :”Ibu Ristia berangkat yah do’akan biar ntar ujiannya lancer yah bu hehe.” (selalu senyum tak lupa dia ikutkan dalam setiap perkataannya).

Ibu :”Tentu Tia ibu selalu mendo’akanmu, hati-hati yah !!.” (Sambil mecium pipi kanan dan kiri pada anak perempuannya itu).

Ristia :”Siap bu…. Daaaaaaaaah.” (sambil melangkah dari rumah dan melambaikan tangannya).

Sesampainya di sekolah dia semakin merasa gugup, namun percaya diri masih melekat dalam dirinya. Sampe Akhirnya bel pun berbunyi dan saat itu juga lembar jawaban Tia sudah terisi semua, namun tiba-tiba P.Baha memanggilnya dan menyuruhnya untuk ikut ke kantor.

Ristia :”Permisi pak ada apa yak ok saya di panggil ke kantor ??.” (Heran dan petanda tanya).

P.Baha :”Oh iya ini berkaitan dengan surat Akta kelahiran nak, bapak mengerti apa yang kamu maksud, bapak minta maaf yah, dan kalo memang ngga bisa, apa bapak boleh meminta Surat Tanda Keterangan Lahir yang tempo hari kamu tunjukan ke bapak ??.”

Ristia :”Oh iya pak segera besok saya kasih suratnya ke bapak.”

P.Baha :” iya, ya suda kamu boleh kembali ke kelas !!.”

Ristia :”Baik pak, permisi hehe.” (tak lupa memberikan senyum ramahnya kepada setiap orang entah dalam kondisi apapun).

Dan saat Tia kembali menuju ke kelas dia merasa senang karna masalah yang berkaitan dengan STTB sudah rampung. Keesokan harinya setelah menjalain Ujian ia menemui P.Baha untuk memberikan Surat yang dimintanya kemarin. Akhirnya hari terakhir ujian telah tiba Tia merasa senang karna tugasnya akan segera selesai.

Dan tugas selanjutnya hanyalah menunggu hasil Ujian yang akan keluar minggu depan. Tapi Tia keliatan seperti bingung ketika kakak-kakaknya menanyaka setelah lulus Tia ingin lanjut ke SMP mana ?? sedangkan dia tak mengetahui sekolah mana yang bagus untuknya.

Saat duduk di ruang keluarga bersama dua kakaknya !!

Kak Irfan :”Eh Tia, udah kelar yah ujiannya ??.” (Cetus kakak ke duanya langsung).

Ristia :”Iya, emang kenapa ??.”(Jawab Tia ketus, karna sedikit tidak akur dengan kakak ke duanya yang suka jail gangguin Tia).

Kak Irfan :”ohh mau lanjut kemana ???.”(nada mencibir).

Ristia :”kemana aja boleh !!.” (Balasnya dengan nada santai tapi cukup menggugah emosi Kakaknya).
Kak Irfan :”Yeee biasa aja kali ngga usah nyolot ditanya baik-baik juga !!.”

Ristia :”Biarin yeee!!.” (Dengan santainya)

Namun tiba-tiba Alfian kakaknya bersuara…

Kak Alfian :”Hahaha Tia bilang kemana aja boleh, ya udah berarti ke toilet juga mau lanjutin gitu ya.” (Cetusnya).
Ristia :”Terserah kalian deh mau lanjutin kemana juga terserah aku, iya kan bu ??.” (Yang tiba-tiba ibunya duduk di antar mereka).
Kak Irfan :”Hahaha kalah tuh dia.” (Laga mencibir)
Ibu :”kalian ini, biar saja Tia mau kemana juga kan dia yang sekolah.” (Tungkas Ibu)

Beranjak dari bercengkrama dengan keluarga, dan bergegeas menuju kamar melanjutkan

hobinya yang mencoba menciptakan sebuah novel.

Setiap hari Tia lalui dengan berbagai kondisi diri dan mencoba selalu berusaha mengahargai kehidupan dan selalu berusaha menempatkan diri di setiap situasi, hari mulai berlalu kehidupannya berjalan sesuai arah yang Tia dan keluarganya pilih, hingga sampai pada saatnya Tia beranjak dewasa dan hampir menyamai tinggi badan diantara ke dua kakaknya.

Hari-hari Tia sendiri dipenuhi dengan warna jalan yang ia ambil untuk melangkah dan menjadikannya sebuah kehidupan yang membuat ia nyaman. Dan perlu kita tau, suatu pilihan yang baik bukanlah sesuatu yang bagus dan indah dipandang olehnya dan orang lain, namun sesuatu yang menjadi pilihan adalah sesuatu yang baik dan nyaman untuk diri kita indah dan bagus untuk menjadi suatu pilihan, begitu juga dengan hidup, hidup adalah sebuah pilihan yang wajib kita untuk memilih namun juga memilah.

~Ketika kita beranjak bangkit dari sebuah kesakitan di masa lalu, pernah kah kita untuk kembali ke tempat kita dulu saat merasa sakit ?? tidak bahkan kita akan selalu menjauh atau mungkin hanya mampu menengok dan memandang sebelah mata atas masa lalu~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s