Pernikahan

            Pernikahan adalah sesuatu yang paling ditunggu-tunggu dan didambakan oleh kebanyakan orang setelah apa yang ingin diraih berada dalam genggaman. Lulus kuliah, sukses dalam karir, mapan dengan memiliki rumah dan kendaraan pribadi dan sebagainya, kemudian apalagi yang hendak ingin diraih kalau bukan memiliki sebuah keluarga yang bahagia seperi harapan semua orang. Itu semua diraihnya dengan menikah.

            Menjalani sebuah rumah tangga tidaklah mudah, semudah mengucapkan  “Sakinah, mawaddah warahmah.” Tidak semuda itu, Pernikahan adalah awal dari kehidupan baru, keadaan baru, kondisi baru, penyesuaian baru dan tujuan baru, yang kesemuanya mengharapkan kebaikan dan kelancaran dalam meraihnya. Tapi kita harus selalu ingat bahwa, kehidupan adalah tempatnya belajar, berkorban, bertukar perasaan dan posisi bak roda berputar. Yang harus selalu disiapkan adalah benteng kekuatan hati yang beramunisikan kesabaran, keikhlasan, ketaatan, kesetiaan dan rasa cinta.

            Seperti roda berputar, sama halnya bola juga menggelinding. Hanya saja ketika bola menggelinding, apakah sudah terarah atau sudah bertujuan ? apa hanya menggelinding bebas tanpa arah ?. Sama halnya menjalani rumah tangga, apakah kita sudah mengetahui dan menata, bagaimana, kemana dan akan seperti apa sebuah rumah tangga ini akan dibawa ?, apakah bebas berjalan begitu saja tanpa arah ?. Itulah yang seharusnya ditata sejak awal, berniatkan sesuatu yang baik dan dimulai dengan sesuatu yang baik dengan berbagai tujuan yang terarah.

            Memang benar, berbicara lebih mudah daripada melakukan dan menerapkannya hingga terwujud suatu tujuan tersebut. Tapi kita harus tahu bahwa, segala sesuatu dalam hidup tidak dapat diraih dengan mudah dijalan yang benar, segala sesuatunya butuh pengorbanan, seberapa kecilpun pengorbanan itu dan seberapa kecilpun suatu usaha semuanya tetaplah ada harganya. Itulah sebabnya hidup menjadi berharga. Jika tidak orang akan menyia-nyiakan hidupnya. Tanpa usaha, tanpa pengorbanan karena semuanya diraih dengan mudah sehingga tidak lagi butuh usaha dan penghargaan untuk usaha tersebut.

            Di dalam sebuah rumah tangga, semuanya sangat berfungsi dan memiliki kedudukan penting satu sama lain. Seorang suami yang memiliki tugas rangkap dan seorang istri pun juga memiliki tugas rangkap yang sama-sama pula bebannya. Tidak ada yang lebih besar dan lebih kecil antara keduanya. Ketika Akad telah diikrarkan dengan stempel “Sah” maka keduanya memiliki tugas yang sama beratnya. Namun yang membedakan disini suamilah sebagai kepala keluarga, tempat tanggung jawab terbesar untuk dunia dan akhirat.

            Itu hanya tentang tugas dan tanggung jawab, bukanlah sebuah masalah ataupun beban dari pernikahan. Jika itu sebuah beban maka dari awal kita tidak meminta, tapi diberi. Tapi karena tugas dan tanggung jawab itu sudah diambil dengan kesanggupan seorang suami dan istri melalui jalan pernikahan, maka itu bukan sebuah beban. Karena kesaggupan yang sudah diambil memalui jalan menikah adalah wujud dari permintaan diri bahwa keduanya telah siap untuk menjalaninya. Segala sesuatunya akan terasa ringan dan bukanlah suatu beban jika dijalani berdua dengan sabar dan hanya mengharap pertolongan dari-Nya serta Ridho-Nya.

Dua Di 25 November

10352598_590246561072533_1187479358504778703_n

Hari itu aku ingat betul kejadian yang terjadi pada hari selasa, 25 November 2014. Pagi hari mendapat peringatan sebelum pergi ke kampus untuk mengenakan baju batik, dikarenakan memperingati hari guru nasional yang biasa diperingati pada tanggal 25 November.

Malamnya aku berbicara dengan Ibuku melalui telfon, bahwa esok ada hari guru nasional dan juga Ibuku yang memberitahukan keadaan Masku yang Alhamdulillah membaik. Sebelumnya ia sudah sakit sekitar kurang lebih sekitar sebulanan setelah aku pergi ngekos dan kuliah perdana. Aku dan semuanya tak pernah mengira bahwa ia akan pergi begitu cepat seperti apa yang sudah Allah tuliskan untuk Masku sebelumnya.

Pagi itu, aku menjalani hari seperti biasa. Karena ada hari guru nasional semua fakultas keguruan dan ilmu pendidikan mengadakan acara serentak pada jam 9 pagi untuk berkumpul di balkon dan di depan danau untuk menyanyikan lagu Hymne Guru, dan rangkaian acara kecil namun serentak dan meriah saat itu. Setelahnya keadaan kembali seperti semula, kembali ke kelas masing-masing. Untungnya jam pelajaranku sampai jam 10 jadi setelah acara itu tidak ada lagi mata kuliah. Dan sejak saat itulah aku merasakan firasat aneh. Aku merasa ingin pulang cepat-cepat, aku merasa tidak enak dengan suasana hatiku. Padahal semua baik-baik saja.

Akhirnya aku berpamitan pulang ke kos lebih dulu. Dan sesampainya di kos, aku tetap merasa tidak nyaman, malah badanku terasa dingin semua tidak seperti biasanya. Tapi aku merasa baik-baik saja, benar-benar aneh aku tidak bisa menggambarkannya lebih dari itu. Aku putuskan untuk tidur saja, siapa tahu setelah bangun nanti perasaan tidak enak itu hilang.

Tapi tetap saja aku tidak bisa tidur, hanya memejamkan mata, bergulang guling di kasur dan sebagainya. Hingga hari mulai senja sekitaran jam 4 sore, ada yang mengetuk pintu kamarku.

“Ga, Ega….” Akupun langsung bangun dan membukanya. Dan ternyata beliau adalah Ibu kos.

“Oh.. iya bu… ?.”

“Kamu kenapa ko tumben pulang pagi langsung tidur, kamu sakit ?.” Tanya beliau yang begitu perhatian kepadaku, memang beliau sangat perhatian kepada penghuni kos. Tidak hanya itu beliau juga sangat murah hati, seringkali masakan, makanan ia sediakan bagi siapa saja yang mau makan. Beliau baik dan supel, membuat penghuni kos merasa nyaman dan menganggapnya seperti orangtua sendiri. Tapi beliau tidak tinggal satu rumah dengan para penghuni kos, hanya Mbah Haji yang menunggui rumah kos itu bersamaku dan penghuni kos lainnya. Mbah Haji adalah Ibu angkat dari Ibu kos, beliau juga sangat baik dan ramah serta murah hati. Sampai-sampai aku akrab sekali dengan beliau. Beliau juga sangat perhatian padaku, selalu menanyakan keadaanku jika sedikit ada yang berbeda dari diriku. Atau biasanya menghantarkan kue dengan menyelipkannya di jendela kamarku. Subhanallah aku sangat merindukan beliau-beliau orang baik yang sudah aku anggap keluarga sendiri di rumah kos itu.

Percakapan berlanjut.

“Ohehe, engga bu, saya ngga sakit ko. Cuman kerasa capek saja.”

“Ayoo sini ke belakang, aku buat nasi goreng empok (makanan jawa), kamu mau kan nasi empok ?.” Tanya beliau sambil bertolak kembali ke belakang.

“Mauuu buk, waaah si Ibu tau aja kalau akunya belum makan hehe.” Sambil jalan kebelakang.

“Panggil Ana, Guntari sama Tika ya. Yang lainnya kayanya lagi pada keluar.”

Pergilah aku memanggil mereka, namun hanya Mbak Ana dan Guntari saja yang berhasil membuka pintu dan ikut ke meja makan bersama.

“Buk kayanya Tika juga ngga ada dehh buk, di ketok ketok ngga ada jawaban.”

“Ohiya sudah kalau gitu, itu nasinya, kalian ambil sendiri di wajan, makan bareng disini.”

Makanlah kami bersama-sama. Aku, Mbak Ana, Guntari, Ibu kos dan Mbah Haji. Makan bersama dan bercanda setelah itu sambil tertawa terbahak-bahak seakan-akan apa yang sudah aku rasakan tadi hilang bersama candaan dan deru hujan yang terdengar cukup deras. Sampai pada akhirnya kami bubar karena sudah hampir maghrib  dan aku berpamitan untuk segera mandi sore.

Setelah mandi, dan berdiam di kamar dengan suara hujan yang terdengar semakin deras tanda malam nanti baru akan reda, kalau reda. Aku pun ingat bahwa tilawah ODOJku kurang beberapa halaman di Juz 15, masih ingat saat itu. Dan aku pun melanjutkannya, namun di tengah-tengah sedang asik bertilawah berbalapan dengan suara hujan, HP.ku tiba-tiba bergetar. Sengaja aku stel getar saja karena takut lupa bila di kampus lupa mensettingnya.

Aku lihat nama pada panggilan masuk. Ternyata telfon dari Ibuku, segeralah aku mengangkatnya dan sejenak memberhentikan tilawahku saat itu.

“Assalamualaikum, Ega… ?.” Suaranya terdengar parau dan lirih. Tapi aku mencoba biasa.

“Waalaikumussalam buk, Ibuk kenapa ?.” Tak tahan langsung bertanya keadaannya setelah menjawab salam

“Ega lagi dimana ?.”

“Lagi di kos buk, Ibu kenapa ?.” Pertanyaanku ku perjelas karena Ibu tak menjawabnya.

“Ega, ini Ibu lagi di RS, lagi di UGD.” Jawab Ibu sambil menangis diseberang. Aku mendengarnya sontak bingung dengan apa yang terjadi sampai beliau menangis menelfonku.

“Loh… buk siapa yang masuk RS ? ko Ibu nangis ?? Embah ya buk ?.” Aku sama sekali tak pernah berpikiran bahwa itu adalah Masku, aku kira Embah yang masuk rumah sakit mengingat beliau yang sudah tua renta dan sering mengeluh sakit sana sakit sini.

“Bukan ga, Masmu… Mas Rofan.” Kembali tangisnya pecah.

“Ya sudah buk, aku pulang sekarang.” Tanpa berpikir panjang dan tanya kenapa aku langsung mengabarkan untuk pulang karena jujur saat itu perasaanku kembali kacau. Dan setelah Ibu menutup telponnya aku segera bergegas ganti baju sambil menelfon sepupuku yang siapa tau aku bisa nebeng pulang saat ianya pulang kerja. Tapi ternyata dia sudah pulang lebih dulu dari jam 4 tadi, Tanpa berpikir panjang aku meminta bantuan Mbak Ana yang memang saat itu hanya dia yang punya motor dan sedang nganggur di kos. Alhamdulillah dia bersedia mengantarkanku. Awalnya aku kasihan jika dia mengantarku sampai Lawang dan aku memintanya untuk mengantarku di dekat masjid Kepuh untuk bisa menemukan angkutan umum tapi dia menolak karena saat itu hujan deras dan sudah masuk waktu maghrib. Semoga Allah membalas kebaikannya yang bagiku saat itu waktu sangat berharga. Namun sebelum berangkat Ibu kembali menelfon dan memintaku untuk menghubungi Mas Yoga, dia adalah Kakak pertama. Karena Ibu pernah bisa menghubungi nomor Hpnya saat itu. Dan ternyata sama saja tak bisa dihubungi. Akhirnya tak kehabisan cara aku menghubungi saudaraku yang lain yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan rumah Mas Yoga untuk meminta tolong mengabarkan berita itu.

Akupun berangkat bersama Mbak Ana dengan hujan deras dan semakin deras saja rasanya. Perjalanan ditempuh sekitar setengah jam lebih sampai RS dan ku temui Ibu disana dengan mata sembab dan Ayah. Namun sesegera mungkin aku meminta untuk ijin sholat dahulu sebelum masuk UGD. Setelahnya sholat, aku meminta kepada sang Maha Pemberi dan Pemurah atas segala sesuatu dan permintaan para hamba-Nya.

Setelahnya aku masuk ke ruang UGD yang ditemani Mbak Ana saat itu, berjalan dengan hati-hati, tidak banyak orang yang ada disana, hanya ada Masku saja beserta para Dokter dan perawat-perawatnya. Setelah memasuki ruangan lebih dalam aku merasa begitu shock dan tidak lagi bisa berkata apa-apa. Iya ini sungguh membuatku lemas dan kehabisan kata-kata. Dalam hati hanya dapat berkata “kenapa bisa seperti ini ?”. Tidak hanya itu, semua terasa terhenti di dalam hati melihat banyak peralatan medis yang dipasangkan ke tubuhnya. Sungguh tak mampu rasanya melihatnya dalam keadaan berbaring dengan nafas yang terengah-engah seperti sulit mengambil nafas. Sekalinya dapat terambil ku perhatikan dada dan tenggorokannya begitu cekung ke dalam.

“Allah…. bagaimana bisa seperti ini ? sakit apa dia sebenarnya ?.”

Baru pertama kali aku melihatnya dalam keadaan sakit yang benar-benar menjadi begitu tak berdaya. Tamat-tamat kuperhatikan dengan air mata yang tak tertahankan.. ia sungguh pucat seperti kulit yang tak punya warna darah, bahkan pandangannya begitu berat mengarah kesana kemari mengikuti nafasnya yang begitu sulit.

Aku hanya bisa berdiri setelah itu dengan memandangi monitor detak jantung yang dipasang untuk tetap mendeteksi jantungnya. Sungguh aku tak punya daya melihatnya. Apapun itu ini adalah hal tersulit yang pernah aku lihat, karena sebelumnya ia adalah anak Ibu yang jarang sekali bahkan hampir tidak pernah sakit selain penyakitnya yang dari sejak kecil itu.

Kemudian aku hanya duduk di samping ranjang, dan Mbak Ana berpamitan untuk keluar menemani Ibuku. Aku ? hanya diam terpaku melihatnya sambil mengusap telapak kakinya yang terasa dingin. Lalu tidak lama Ibu dipanggil Dokter dan masuk ke ruangan yang sama namun hanya berjarak 4 meteran, beberapa saat Ibu berbicara dan seselesainya beliau berbicara dengan sang Dokter aku menghampirinya dengan segera dan menanyakan, apa yang sebenarnya terjadi, Dia sakit apa ?. Tapi belum sempat Ibu menjawab, beliau tiba-tiba pingsan dan dibawa ke ruangan lain.

“Allah….. aku tak mengharapkan apapun jika kesempatan berharap itu hanya ada sekali untuk saat ini dan malam ini, aku hanya ingin dia sembuh.”

Akhirnya aku beranikan menghadap ke dokter demi mencari jawaban atas pertanyaan yang tak sempat terjawab. Dan aku pun masih tak memperolehnya dengan mudah, beliau begitu menanyakan akan keyakinanku dapat kuat menerima apapun jawabannya. Sungguh ini pertanda, tapi sekali lagi aku sedang berharap lebih dari sekedar apapun hal yang pernah kuharapkan untuk terwujud pada saat itu juga. Setelah aku menyatakan bahwa aku siap apapun jawaban dan pernyataan dokter, beliau mulai berbicara akan apa yang sudah dialami Masku. Bahwa dia sakit gagal ginjal kronis yang mungkin keadaan akan membaik jika Allah berikan mukjizatnya kepadanya malam itu. Dokter berkata bahwa ini sudah parah, dan mungkin bisa dikatakan sudah terlambat. Aku yang saat itu mendengarkan benar-benar apa yang beliau bilang, hanya diam terpaku sampai kaki ini terasa kaku untuk bergerak.

Sebegitu tiba-tibanya semua terjadi. Sungguh aku memujiNya Yang Maha Agung atas segala ketentuan-ketentuanNya. Ya Rabbi…..

Aku kembali ke ruangannya dan duduk disamping ranjangnya. Sejak aku datang, ia hanya dapat mengambil nafas tanpa berkata apa-apa. Akupun sadar akan kesulitan ia mengambil nafas sekalipun slang oksigen membantunya. Tapi sesaat setelah aku duduk disamping ranjangnya tiba-tiba dia berbicara kepadaku dengan sangat pelan. Dia menanyakan tentang keadaan Ibu yang sempat ia lihat ketika Ibu pingsan tadi. Tapi begitu gigih demi keadaannya yang penuh harap aku menjawabnya bahwa Ibu baik-baik saja. Kemudian ia berkata kembali padaku.

“Sakit….”

Disaat itulah hatiku terasa bingung dan tersayat mendengar dia mengeluh setelah beberapa jam menahan sakit yang aku sendiri tak pernah membayangkan betapa sakitnya menjadi dia.

“Sebelah mana yang sakit ?.” Aku coba menjawab pertanyaannya, karena sebenarnya aku sangat tidak tega melihatnya susah bernafas namun masih berusaha berbicara. Tapi dia diam tak menjawab. Aku hanya kembali mengelus-elus telapak kakinya dan mencoba menghangatkannya. Dan dia kembali berbicara lagi padaku.

“Aku pengen pipis.”

“Iya Mas pipis aja kan udah dipasang slangnya.” Aku mencoba menenangkannya

Dan selanjutnya dia diam saja… Sungguh aku merasa sulit dalam keadaan itu.Tak sanggup melihat matanya, karena disanalah terlalu banyak duka dan sakit yang tertinggal begitu membekas. Aku tak sanggup!! Melihat seseorang yang pernah menjalani masa-masa sulit bersama, hidup hanya berdua serumah dengannya. Bercerita tentang hari-harinya tanpa sekolah, tanpa bekerja diusia yang seharusnya karena penyakitnya sejak kecil dan tak pernah ada teman yang berniat tulus untuk menemaninya dalam hari-hari sepi kosong tanpa kegiatan seperti orang-orang seusianya. Berbagi makanan walaupun hanya sedikit, saling bantu membantu membersihkan rumah ketika sama-sama disuruh Ibu, dan selalu saja dia tak pernah berkata tidak untuk membantu dan menolong semua orang walaupun itu akan membahayakan dirinya. Aku tak bisa, Allah… aku tak mau menangis di depannya. Aku tak mau dia bertanya, karena sungguh aku tak akan pernah mampu menjawab dan memberitahunya.

Dan hal yang tak pernah aku sangka-sangka bahwa setelah itu adalah saat-saat dimana dia berbicara denganku untuk yang terkahir kalinya.

“Aku ngga kuat !.” Itu adalah kata-kata terakhir yang aku dengar langsung dari mulutnya, untuk yang terakhir kalinya.

“Engga, Mas ngga boleh ngomong gitu…. Mas kuat kok pasti kuat, aku panggilkan Ibu ya.”

Setelah Ibu datang, karena Alhamdulillah saat itu beliau sudah ditenangkan oleh Ayah dan Budhe dan Pakdhe yang saat itu ada disitu. Mas Yoga masih belum bisa dihubungi, seandainya dia tahu bahwa akan terjadi seperti ini.

Kemudian aku berpamitan untuk segera sholat Isya sekalian Mbak Ana berpamitan untuk pulang ke kos.

Sekitar setengah 8 lebih, aku kembali dari mushola.. dan kutemui Ibu yang lagi-lagi setengah sadar, tanpa menunggu lagi aku langsung masuk ke ruang UGD dan kulihat beberapa Dokter dan dua perawat mengerubunginya, sedang Ayah juga ada disitu. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi ?. Aku menghampiri Ayah dan beliau menanyakan hal yang sama akan keyakinanku, sama seperti awal pertama saat Dokter ingin memberitahuku perihal penyakitnya. Firasatku sangat burut saat itu tak dipungkiri sesuatu yang diharapkan akan terjadi.

“Ega kuat ?.”

“Emang Mas Rofan kenapa ? kok banyak dokter kesitu ?.”

“Mas udah Nadza’, kalau Ega kuat ayo kita kesana kita bisikkan ayat-ayat Allah kepadanya.”

Allah, pecah telingaku mendengarkan itu, runtuh hatiku menerima apa yang sudah ayah katakan…. sekali lagi aku kembali penuh harap, tak percaya pasti dia kuat dan bisa diselamatkan. Mungkin itu hanya masa kritis yang nantinya ia akan mampu melewati, akhirnya demi dia penuh yakin aku mampu melangkah ke ruangan yang berjarak 4 meter dari tempat aku dan ayah berdiri.. ruangan itu hanya tertutup tirai tinggi berwarna oranye. Bismillah aku melangkah dengan ayah. Sesampainya aku hanya bisa melihat tubuhnya yang tak lagi bergerak sedang Dokter berusaha dan terus mencoba untuk menolongnya dengan berbagai alat sedang aku dan ayah membisikkan ayat-ayat Allah disisinya… Sampai mungkin sekitar setengah jam… Dokter menyatakan bahwa sudah tidak lagi bisa, mendengar itu lumpuh kakiku tak kuat lagi aku berdiri menguatkan dia yang Dokter bilang sudah tidak ada. Namun tiba-tiba tirai terbuka dan menerobos para Dokter yang saat itu masih mengerubungi kami. Dia, Mas Yoga yang muncul tiba-tiba saat dia sudah tiada. Ayah meninggalkan kami berdua, dengan masih adanya Dokter disitu dan kulihat dipelupuk mata Mas Rofan mengalir sebutir air mata. Kuusap air mata terakhir yang tak pernah kulihat seumur hidupku dan memeluknya juga menciumnya untuk yang terakhir kali. Setelah itu Dokter memintaku untuk memanggil Ibu dan memberitahukan hal ini, sengaja Ibu tidak dijinkan melihat karena Ibu memang sangat lemah bahkan tidak lagi mampu menerima kabar dan hasil yang tak diharapkan.

Sungguh berat menjawab pertanyannya.

“Ga, gimana ? Masmu ngga papa ? baik-baik aja dia ?.”

“Mas ngga papa kok bu, Dokter minta Ibu masuk ke dalam.”

“Oh iya ayooo.”

Iya semuanya berharap baik-baik saja, begitupun Ibu yang punya harapan terbesar dari apapun bahwa anaknya sudah kembali stabil setelah dikerubungi banyak Dokter. Tapi apa ? setelahnya sampai di ruangan, Dokter langsung menyampaikan berita bahwa anaknya yang nomor 2, Masku… dia sudah tidak ada tepat setengah 9 malam dan kemudian semua. peralatan medis dilepas.

Ibu langsung histeris dan pingsan.

Aku harus kuat, demi Mas demi Ibu. Ibu sudah seperti ini, sebentar-sebentar pingsan. Aku harus kuat demi dia…. ini adalah saat-saat terakhir aku melihatnya dan bersamanya, takkan kulewati malam ini hingga hari esok bersamamu. Dengan berdo’a untukmu adalah cara terbaik untuk menemanimu saat ini Mas…

Dear Mas…..

Hari-hari bersamamu terasa begitu cepat, lembaran-lembaran hari telah terisi. Untuk hari-hari kita ? bermakna ataupun tidak aku sangat ingin mengulangnya. Mengulang yang tidak bermakna menjadi bermakna. Lebih memperhatikanmu, menyayangimu lebih dari waktuku untuk diriku. Mungkin saat ini hanya kenangan yang hidup dalam hari-hariku, tak pernah seharipun aku tak mengingatmu hingga kini. Aku tahu Allah lebih dan sangat sayang terhadapmu, hingga ia memilihkan pilihan terbaik untuk hidupmu yang tak lagi ada rasa sakit seperti setiap hari yang kau rasakan. Harus hidup dengan obat-obatan seumur hidup, sampai-sampai membuat ginjalmu rusak karena terlalu banyak dan selalu mengkonsumsi bahan-bahan kimia itu. Sedikitpun rasa sakit yang kau derita dari kecil hingga akhir hidup tak pernah bisa dibagi walau sedikitpun.

Mas….. Setelah ini dan kedepannya, ada banyak hari yang tak kami lewati bersamamu. Entah seperti apa rasanya, karena kami tahu kematian adalah hal yang akan dialami oleh semua makhluk hidup yang pernah hidup. Semua hanya akan dikatakan dalam hati dan tertahan di hati. Karena kini kau hanya hadir di hati.

Jika, ada kesempatan dalam sekali waktu bisa kembali, aku ingin menggunakan kesempatan itu engkau bisa hadir dihari pentingku, sekali seumur hidupku. 😥

Hanya dengan do’a kami bisa mencintaimu, hanya dengan do’a kami memperhatikanmu, hanya dengan do’a kami selalu mengingatmu.

Lawang, 10 Februari 2015

2.00

Lawang, 10 Februari 2015
2.00

Selalu Berhenti Di Hati

Jika sudah berbicara tentangmu, kebanyakan aku selalu terdiam dan hanya bisa merasakan gambaran dirimu, cukup dihati. Karena tak semudah dan segampang mulut berbicara begitu saja.

Jika sudah mengingatmu, aku masih terdiam dalam redam pikiran tentangmu. Sedang apa ? Masak apa ? Bagaimana hari ini ? Tak pernah bisa terungkap semudah aku merindui mencintai sesuatu kemudian mengungkapkannya.

Ini semua terjadi begitu saja saat mata sempat tak bisa melihatmu setiap hari seperti saat ini.

Ini begitu sangat terasa, ketika sempat suaramu tidak lagi terdengar sesering dulu, itu adalah saat ini.

Saat aku membuatmu marah, kesal, kecewa dan terdiam. Saat-saat dimana begitu mudah aku menyepelekan perasaanmu dengan memberatkan ke labilanku. Memberatkan perasaanku dan melupakan perasaanmu. Tapi kau selalu terdiam dalam hati yang sebelumnya sempat tak kupahami.

Terkesan labil kah aku membuat postingan ini untukmu ?

Tidak begitu jauh aku pergi darimu. Tapi kusadari sangat bagaimana semua hal tanpamu terjadi, seperti saat ini.

Waktu ini sungguh singkat, Akupun sudah sangat merasa dan menyadari bahwa tanpamu tak pernah ada kesempurnaan dari segala sisi kehidupan. Itu sebabnya kau selalu tak pernah bisa tergambarkan.

Selalu berhenti dihati. Tempat dimana aku merinduimu, menaruh rasa sesal bahwa sering kali selama aku sempat melihatmu setiap hari, tidak seperti saat ini. Aku seringkali memberatkan perasaanku. Tempat dimana sejak hari itu, meninggalkan rumah dan lebih memperbanyak waktu jauh darimu adalah cinta dan waktu untuk lebih memberatkan perasaanmu.

Kini, aku merasa waktu selalu lambat. Inginku percepat hari dimana aku bisa pulang dan menemuimu. Menebus, mengganti hari hari yang dimana saat aku sibuk dengan duniaku sendiri, engkau berada sangat di dekatku.

Kau adalah gambaran terindah yang tak pernah sekalipun bisa dilukiskan oleh siapapun.

Kini waktu berjalan cepat, ingin aku putar temponya agar menjadi lambat tak mudah berganti dengan hari esok saat aku bersamamu. Tapi akupun juga ingin mempercepat waktu saat dimana aku tak ada bersamamu.

Aku selalu ingin membuatmu merasa menjadi ibu paling sempurna dimata semuanya. Tapi aku sadar dengan apa yang kau miliki, seperti diri ini yang tidak membuatmu menjadi sempurna. Belum sempat memberikan apapun. Banyak menorehkan kekesalan bahkan kekecewaan.

Tak pernah bisa menggambarkan dan digambarkan.

Perasaan tentangmu selalu berhenti dihati.

Kau adalah orang paling sempurna, sosok romantis yang pernah ada.

Jika suratmu datang dijaman yang sudah modern ini. Perasaan itu selalu berhenti di hati dan berbuah linangan di sudut mata yang selalu penuh harap akan ada waktu dimana semua doa tentangmu menjadi nyata. :’)

ibu

Semangat 5000

Ketika perasaan rindu ada dan kian menjadi-jadi aku tak tahu harus menanggapinya seperti apa. Sedang mengartikan perasaan rindu saja aku kurang mampu. Yang ku tahu, hatiku saat ini ingin bertemu Ibu, mendengar suaranya, bertukar cerita dan pendapat dengannya. Makan malam bersamanya dengan makanan sederhana yang buatku itulah yang paling luarbiasa.

Kemarin malam, sempat aku mendengar suaranya walau cuman sebentar. Lagi-lagi gara-gara pulsa  “BBM naik, untung pulsa ngga naik !.” :’)  Wong harga pulsa tidak naik saja aku jarang beli, apalagi naik. Disini yang dimaksutkan adalah pulsa regular. Juarang sekali kalau memang tidak benar-benar perlu. Karena sudah ada pulsa paketan internet. Dan kalaupun beli pulsa cepat sekali habisnya, soalnya sekaliya beli pulsa regular langsung dibuat telpn sama Ibu atau saudara-saudara di rumah.

Minggu ini kerisis moneter banget ! Gara-gara ………….
Bukan gara-gara sih, lebih kepada keenakan aja jadi sampai sadar lalapan kemarin menguras habis sisa jatah uang mingguanku yang sudah mulai menipis di hari ke 2 minggu ini. Dan kebayang tidak ? sekarang lembaran yang sering disebut uang dan sebagai alat tukar berbentuk nominal setelah menggantikan alat tukar atau sistem tukar bernama barter itu tinggal 5000 rupiah di dalam dompet. Amazing bukan ?! Harus bisa bertahan sampai hari sabtu atau minggu.

Belajar hemat dong !

Sudah. Malah hemat banget, seminggu dijatah 50.000. Kurang hemat apa coba ?

Iyasih, akunya memilih masak daripada beli makanan jadi. Bangkrut dimakan entar hehe. Belajar efisien lah !!

Orangtua selalu berniat memberikan uang lebih, tapi aku rasa dengan segini 1 bulan 2 ratus sudah sedikit membantu orangtua lah paling tidak.

Semangat buat aku dan dompetku !

Kamar Kost – Notojoyo, 19 November 2014
20.15

Brain Washing Apa Refreshing

Jam pertama ada mata kuliahnya Bu Rahma Reading I. Mulai menata semangat untuk hari itu.

“Beliau tidak dapat hadir dikarenakan beliau sedang sakit.” Tutur salah seorang pemuda yang konon katanya berasal dari daerah yang paling jauh Papua.  Dia adalah ketua tingkat kelasku.

Ramai heboh sendiri merasakan kebebasan diantara kebebasan seperti yang mereka bilang. Tapi tiba-tiba teringat bahwa jam selanjutnya ada matakuliah Pak Bayu Structure I. Awalnya pupuslah harapan anak bangsa hehe, tapi segala sesuatunya kami percaya semua akan indah pada waktunya !

“Pak Bayu tidak bisa hadir menemani  kalian belajar dikarenakan, saya harus mengantar dan mendampingi para kakak tingkat kalian yang hendak berangkat magang 2 kesekolah-sekolah.” Terang beliau dengan pesonanya yang luar dalam bikin nyaman hihihi

Luntang lantung lah kita setelah sehari kemarin selesai UTS, rasanya memang agak belum siap menerima jejalan mata kuliah sebelum adanya brain wash (refresing) hihi. Kalau dipikir-pikir cuaca sangat mendukung, tidak menunjukkan bau-bau akan segera turun hujan. Mulai lah aku dan teman-teman merencakanan sesuatu yang berbentuk siasat untuk menyiasati hari nganggur dan kalau sampai benar-benar dianggurin akan jadi hari ngebosenin. Setelah rembukan dan bermusyawarah bak konferensi meja bunda, kami tetap bingung mutusin setelah ini mau kemana. Karena rasanya ngga asik kalau setelah ini pulang ke kost masing-masing, boleh lah sekali-kali selama tengah  semester 1 ini kita brain washing hihi hehe hoho refreshing maksutnya😀.

Masih dalam kebingungan yang mendera sekelompok mahasiswa bahasa inggris yang terkadang dengan spontan kehilangan kesadaran seperti heri (heboh sendiri) ketika menemukan atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak harus dengan ekspresi yang mmm hnggg. Berjalan menyusuri jalan kampus yang bergelombang dan suatu ketika terhentilah kami dikarenakan, Fadila bertemu sama someone else. Kami tunggulah dia berngobrol ria #diemperan duduk di samping Helipad. Naaah, yang lainnya juga pada ikut nimbrung tapi berjarak 5 jengkal tangan lah. Awalnya kami mengira hanya bertemu biasa, jadilah kami tunggu. Dan ternyata waktu menunjukka hampir setengah jam dia ngobrol dengan sang someone else itu.

Setelah udahan dan akhirnya sadar kalau kami berdua nungguin dia, jadilah kami berangkat ke parkiran buat langsung keluar dari kampus, dan dengan spontan si Cintya memutuskan untuk kami pergi brain washing hehehe ke Alun-alun Batu tetereteretetrettttttt.

Sesampainya disana sekitaran jam 11 dan kami putuskan untuk makan. Makan ?? ditengah-tengah kebingungan akan dompet yang semakin meraung-raung. Kami berniat mencari warung atau tempat makan yang, murah, dipinggiran, enak juga. Dan itu sekejap secara background inshaAllah memenuhi kriteria dan setelah 2x mondar mandir Warung tersebutlah yang memenangkan hati kami dalam persaingan sengit mencari warung makan berkriteria.

Ini nih yang bikin kita bahagia dan berhasil merefresh juga membrain wash pikiran kita tapi juga bikin nyesek juga nih kejadian hari itu. Niatnya sih cari tempat makan yang hemat istilah lainnya murah enak dan efisien lah. Nemulah kita, dipinggir jalan itu tadi sekitaran WSS Alun-alun batu, deket-deket situlah. Warungnya kecil, masuk gitu. Sekilas kalau dilihat, makanan yang dijual di warung itu cuman sedikit. After all ternyata engga, ada beberapa menu masakan lain yang dijual disitu. Dan walhasil semua itu bukan masalah, yang penting bisa makan, enak kenyang,  halal😀

Aku bingung mau pesen apa, akhirnya si Aprin pesen pecel, si Fadila pesen soto, si Cintya dan aku lalapan ayam “Ngga Pake Embel Embel Lain” !

Alhamdulillah makanan siap disajikan, dan fokuslah kami untuk menyantap makanan yang kami pesan masing-masing. Alhamdulillah Enak ayamnya juga lembut, entah kenapa ngga kepikiran yang aneh-aneh pokonya udah enak aja. Engga sempat kepikiran juga ini ayam ayam kampung apa ayam poting ? abisnya di daftar dituliskan lalapan ayam aja “ngga pake embel-emebe lain.”

Makanan habis dan kenyang, Alhamdulillah……………………….

Saatnya bayar ! Ini nih moment yang pengen di skip hehe #kidding ya dosa udah makan ngga bayar.

“Pecel sama minum pak ?.”

“12.000 mbak.”

“Soto sama minum pak?.”

“13.000 mbak.”

“Lalapan ayam sama minum pak ?.”

“23.000.”

——————

————————

“Ehehe sebentar ya pak.” Setelah ngambil dan ngasihin uang buat bayar itu makanan aku langsung cepet-cepet keluar. Giliran si Cintya

“Lalapan ayam sama minum pak ?.”

“23.000 mbak.”

“Berapa pak ?.”

“23.000 mbak.”

———————- Hening tapi langsung sadar. Pantes segitu, mungkin yang empuk yang enak tadi ayam kampung, dan seandainya kalau waktu boleh berputar kembali dan kita berdua tahu bahwa itu lalapan ayam kampung, mungkin kita akan lebih memilih beli pecel atau sotonya.

Bukan apa-apa tapi hari-hari itu uang kita sudah pada menipis, maklumlah anak kos apa-apa diperhitungkan.

Selesai sudah, pas ngeliat dompet -_____-

Selesai jugaaaa😀

Bulan-Bulan Hujan

Kusambut bulan-bula hujan dengan rasa syukur. Aku sangat menantikan dan menyukai datangnya bulan-bulan hujan seperti sekarang ini. Alhamdulillah, aku bisa menemuinya di tahun ini. Sebenernya tidak ada yang special sih, tapi entah kenapa bulan-bulan seperti ini tuh pas banget dijadikan sebagai pentup akhir tahun. Dan entah kenapa selalu ngerasa senang tanpa alasan dengan bulan-bulan hujan seperti sekarang ini. Dari dulu hingga saat ini tetap tidak bisa menggambarkan kenapa begitu menyukai akhir tahun dengan datangnya hujan.

Tapi di sisi lain aku memahami perasaanku bahwa setiap hujan turun, hati dan rasa ini begitu rindu dan menginginkan kedekatan, kebersamaan bersama orang-orang tercinta yang sempat pernah terjadi dan kini ingin terulang kembali, selalu seperti itu ! diakhir tahun mengingatkan moment-moment lalu yang dilewati bersama orang-orang terdekat dan kini menjadi sosok yang dirindukan untuk kembali dapat mengulangnya bersama keluarga, saudara, sahabat, teman dan orang yang pernah hadir menuai corak indah di kehidupanku.

Hari senin 17 November 2014, mulai kembali keperaduan, sebagai seorang pemudi yang menlanjutkan studinya dari pinggiran kota, kepinggiran kota hehe. Hari itu aku mencob berangkat sendiri dengan angkutan umum. Biasanya aku nebeng sahabatku Gita, tapi kali ini entah perasaan lebih ingin ngangkot saja.  Dan setelah berhasil naik angkutan umum yang rutenya sama dan sejalan seperti pas waktu berangkat sekolah dulu ke SMK hmmmmm kangen banget ! ingat sekali saat-saat SMK dulu, dimana kelas 10 semester 1 selalu saja telat, telat dan telat. Dan selalu saja aku salahkan angkot yang kurang cepat membawaku sampai sekolah tepat waktu, padahal itu cuman argument yang sama sekali ngga bener. Dan lagi pagi itu dalam keadaan mendung, maklumlah pagi-pagi mendung namanya juga musim penghujan. Sepeti ini jadinya flash back tentang kenangan-kenangan dimana semua itu menjadi hal yang cukup dirindukan, apalgi pas lagi hujan-hujan gini.

Main volly sambil hujan-hujanan, Cerita bareng temen-temen sambil nungguin hujan reda di depan kelas yang langsung menatap luas langit dan lapangan.  Sampai yang ngeliat temen-temen yang juga sama nungguin hujan reda tapi mereka lagi ditemenin pacarnya , jadi lucu gitu ngeliat orang pacaran nungguin hujan. Yang sini nungguin hujan sendiri. Ehh ngga juga sih biasanya nungguin dijemput sepupu yang sekalian pulang kerja.

Dan pagi di hari senin itu aku lewat SMKN 2 hehehe

Tapi cuman mendung, coba kalau hujan pasti flash backnya makin seru makin mendalami hahaha.

“Saat itulah, dan tiap lewat depan SMKN 2 entah pas pulang ke rumah atau mau balik ke kost, ada harapan untuk sesuatu :’).”

Di bawah langit bersama nada hujan – Notojoyo
16.34

Nikmat-Nyalah Yang Selalu Menyempurnakan

20141105_160704

Tidak ada yang sempurna sebulat bulan purnama, seterang matahari, segelap malam tak berbintang, itulah gambaran hidup. Disisi lain ada sesuatu yang mungkin kita biasa sebut ‘kekurangan’. Iya ialah sesuatu yang membuat sesuatu tidak sempurna adanya. Ia terletak di dunia di kehidupan semua manusia. Itu sebabnya tidak ada makhluk yang sempurna, tidak ada kehidupan yang sempurna melainkan kehidupan setelah di dunia.

Bayangkan, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam mengarungi kehidupan tidak sesempurna yang kita bayangkan, walaupun beliau adalah kekasih Allah Subhanahu wa ta’alaa.. Banyak sekali rintangan yang beliau Nabi alami. Dari sejak di dalam kandungan, beliau Nabi sudah menjadi yatim, hingga setelah lahir kemudian ditinggal sang Ibunda Siti Aminah. Beliau menjadi yatim piatu sejak kecil. Menjadi seorang penggembala muda dengan kehidupan yang tidak kaya dan tumbuh menjadi pemuda yang jujur, arif nan bijaksana hingga memiliki tugas yang tak dianggapnya sebagai beban hidup, melainkan tanggung jawab hidupnya di depan Allah Subhanahu wa ta’alaa. Dengan berdakwah fii sabilillah membawa nama Allah Subhanahu wa ta’ala dan Agama tercinta kita, beliau Nabi lebih mendapati banyak ujian baik dari kaum kafir Quraisy, para saudara dan pamannya yang memusuhi, para kaum kafir yahudi dan orang-orang yang tak menyukainya hingga berbuat hina kepada beliau.

Perang demi perang beliau lewati, dengan prinsip “Bukan untuk membunuh lawan melainkan membela islam dan mempertahankan diri dari serangan.” Sungguh mulia dengan berbagai rintangan, juga disaat yang sama paman beliau Nabi yang sangat dekat dengan beliau Abu Thalib dipanggil Allah Subhanallahu wa ta’ala berbarengan dengan Sayyidatina Khadijah yang juga meninggal dunia, cobaan tersebut sangat membuat beliau Nabi terpukul. Namun, lagi lagi kesabaran dan keikhlasan daripada takdir dan ketentuan-Nya lah yang membuat beliau Nabi tetap tabah dan menerima semua dengan ikhlas dan berserah diri kepada-Nya.

Tidak hanya itu, hampir dibunuh, dicemooh, dicaci-maki, diludahi bahkan dilempari dengan kotoran hewan pun beliau Nabi tak pernah barang sedikitpun mengeluh sosoknya yang nyaris sempurna tapi kehidupan yang tidak sempurna mengiringi dengan berbagai ujian, dan beliau tetap berdakwah di jalan Allah Subhanahu wa ta’ala sekalipun secara manusiawi, beliau seringkali menerima perlakuan yang tidak manusiawi, tapi beliau selalu dan selalu membalasnya memanusiakan manusia dengan baik dan berhati-hati dalam menghargai, Subhanallah.

Dan tiada tempat berlindung dan kembali dalam rangka menguatkan hati selain kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

“Hasbunallah wani’mal wakiil.”

Sahabat Ibnu ‘Abbas, berkata bahwa “hasbunallah wa ni’mal wakiil” adalah perkataan Nabi ‘Ibrahim ‘alaihis salaam ketika beliau ingin dilempar ke api. Sedangkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam hadistnya,

“Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (HR. Bukhari no. 4563)

“Kehidupanlah yang tidak sempurna.” 

Meski begitu Allah Subhanallahu wa ta’alaa selalu mencukupi kita dengan, kebaikan, kemudahan, keberkahan dalam hidup. Mungkin dunia memang tidak sempurna, Tapi nikmat-Nyalah yang selalu menyempurnakan.

———————————————————————-

Begitupun apa yang ada dan terjadi dalam kehidupan kita, banyak sekali ketidak sempurnaan yang ada pada kehidupan maupun pada diri kita sendiri. “Ya namanya manusia, tempatnya salah juga ngga sempurna !.” kalimat yang biasa dijadikan semboyan membela diri apabila melakukan kesalahan, memang benar juga bahwa tidak ada manusia yang ada dalam kebaikan dan kebenaran 100%. Untuk itu sebagai sesama manusia yang seharusnya paham akan hal itu, dan tetap saling menghargai.

Aku tahu, dan mulai bisa belajar memahami dengan baik, bahwa segala sesuatu yang ada pada diri kita, yang lakukan tidak bisa mudah diterima oleh semua orang. Iya !! Tidak semua orang sejalan dengan maksut, tujuan dan pikiran kita. Pun kita juga tidak bisa memaksakan orang lain untuk setuju, suka dan sejalan dengan apa yang kita pikirkan, maksut baik tujuan kita dan juga apa yang kita lakukan.

Mustahil rasanya mengharapkan hal itu terjadi. Dimanapun nantinya dan apapun nantinya pasti selalu akan ada sesuatu yang pro dan kontra terhadap sesuatu itu, entah baik entah buruk. Semisal, sekalipun yang kita lakukan (menurut diri kita sudah baik) tapi belum tentu mereka menyukai dan sejalan dengan pikiran kita. Kembali kepada hukum alam, yang mana setiap pikiran maupun ide dan juga gagasan setiap orang adalah berbeda adanya. Dan terkadang apa yang dilakukan seseorang itu buruk atau tidak baik sekalipun masih ada pula yang membenarkannya.

Jadi beginilah indahnya hidup, dinamika hidup, dan realita hidup yang tidak monoton. Seperti ada siang juga ada malam, ada kebaikan juga ada keburukan, ada rasa suka ada pula rasa duka yang turut mendamping dalam segala didi kehidupan akan seperti itu terus. Namun, semua terjadi itu sesuai dengan waktunya sendiri-sendiri, soal waktu ? semua tergantung diri kita masing-masing. Bahwa apa yang kita lakukan, dan perjuangkan dalam usaha maupun do’a bagaimanapun bentuknya, seberapa besar dan kecil bentuknya, semua akan membuahkan hasil yang mana hasil juga merupakan rahasia dan otoritas Allah Subhanahu wa ta’ala yang memberikan segalanya dan yang juga memegang kendali akan porsi kita dalam menerima sesuatu apapun itu dalam hidup. Maka usahakan yang terbaik karena Allah hanya melihat hati seseorang tidak yang lain.

Lengkapilah segala usaha dan do’amu dengan percaya diri dan berbaik sangka (Husnudzon) kepada-Nya, karena…………

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda : Allah subhanahu wata’ala berfirman : “Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepada-Ku” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Dan lagi,

Dari Abu Sufyan, dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu berkata : tiga hari sebelum meninggalnya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, aku mendengar beliau bersabda : “ Janganlah seorang diantara kalian meninggal kecuali dia telah berbaik sangka kepada Allah “ (H.R. Muslim)

Tetap semangat dan berbesar hati dalam menjalani hidup yang tidak sempurna ini, karena kehidupan yang ada di dunia ini sejatinya adalah sebuah ujian untuk menguji kita dalam perjalanan menuju kehidupan yang baqa’ (kekal) nan abadi. Untuk itu bahwa dunia dan beserta kehidupannya ini berisi ketidak sempurnaan, jangan sampai diri yang tidak sempurna ini dipermainkan dalam ketidak sempurnaan yaitu ke fanaan dunia, hasut dan tipu daya kehidupan dunia.

“Bukan hidup dan bukan dunia jika tidak ada cobaan dan ujian di dalamnya. Bukan kepastian dan keaslian jika itu bukan kematian.”

Kuatkan niat, teguhkan hati, lapangkan dada, jernihkan pikiran, Memohon ampunan dan syukur di dalam do’a kepada-Nya Yang Maha Pemberi Kehidupan. Bahwasannya segala sesuatu tak luput dari pandangan-Nya. Sekalipun ada banyak mata yang tidak menyukai dan tidak sejalan dengan sesuatu yang pada garis agama kita adalah benar tapi Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Melihat dan Maha Mengetahui apa-apa yang makhluknya tidak ketahui.

“Orang yang mampu melihat kebaikan, adalah orang yang merasakan kebaikan itu.” 

Wallahu ‘alam bisshowab….

Ruang Tamu Tercinta-Lawang, 15 November 2014
08.03